Jumat, 24 September 2010

Skripsi


PROFIL PENGEMBANGAN METODE SOSIODRAMA
DALAM MENUMBUHKAN PRILAKU DEMOKRASI SISWA
(Kajian Deskriptif  Kualitatif di SDN 5 Munjul Jaya Purwakarta )



SKRIPSI




Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan
pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang







Oleh :

CEVI NURMAULANA IRVAN
NIM : 0661210036



PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SUBANG
2008

LEMBAR PERSETUJUAN

 




 Nama                  :  Cevi Nurmaulana Irvan

 NIM                            :  0661210036
 Program Studi             :  Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
                                       Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
                                       Subang

 Judul Penelitian       : PROFIL PENGEMBANGAN METODE

  SOSIODRAMA DALAM  MENUMBUHKAN 

             PRILAKU DEMOKRASI SISWA

              (Kajian Deskriptif Kualitatif di SDN 5 Mujul Jaya  Purwakarta )





Menyetujui dan Mengesahkan :



         Pembimbing I                                                Pembimbing II





  Tri Wartoro, SE.,S.Pd,.M.M.Pd,. M.Pd          DR. Ine Kusuma Aryani, M.Pd             


Mengetahui,


               Ketua STKIP Subang                                      Ketua Jurusan PPkn




           Drs. Asep Priyatna, M.Pd                   Drs. H. Nano Sukmana, SE,.M.Pd

PERNYATAAN




Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Profil Pengembangan Metode Sosiodrama dalam Menumbuhkan Sikap Demokrasi Siswa ( Kajian Deskriptif Kualitatif di SDN 5 Tegal Munjul Purwakarta ) “ ini sepenuhnya karya saya sendiri.  Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain  dan saya tidak melakukan  penjiplakan atau pengutipan  dengan cara-cara yang tidak sesuai  dengan etika keilmuan kyang berlaku dalam masyarakat keilmuan. 
Atas pernyataan ini,  saya siap menaggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila  kemudian  ditemukan  adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan  dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap  keaslian  karya saya ini.




         Subang,   Agustus  2008

Yang membuat pernyataan



                                                                                         Cevi Nurmaulana Irvan

 


ABSTRAK

 



                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana profil pengembangan metode sosiodrama dalam menumbuhkan prilaku demokrasi di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta.
            Penelitan ini menggunakan metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang sedang menguraikan kejadian-kejadian  yang bersifat aktual dan terjadi pada saat penelitian berlangsung.  Metode deskriftif digunakan untuk menggambarkan dan menginterpretasi obyek sesuai dengan apa adanya, melalui wawancara kepada unit narasumber, yaitu dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan, satu orang di SD Negeri 5 Munjul Jaya dan satu orang merupakan dosen Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Jurusan PPKn STKIP Subang.
            Penelitian ini memberikan deskriptif tentang bagaimana : 1) Profil pengembangan metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa mata pelajaran PKn kelas 5 pada Bab Mengenal Keputusan ; 2) Prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama ; 3) Motivasi  belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan :  Pertama, Profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa   pelajaran PKn siswa kelas 5 di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta dilakukan dengan dibuat suatu langkah-langkah dalam bentuk perencanaan pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) yang mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan dan masih berlaku. Selain itu, alat dan bahan ajar, metode dan penilian dalam pembelajaran PKn dengan metode sosiodrama disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. 
Kedua, Prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama siswa  menjadi lebih kritis, berani  mengeluarkan ide-ide/pendapat terhadap masalah – masalah sosial yang sedang terjadi dengan berbagai alasan dan argumentasi. Hal tersebut tentu didukung dengan  guru yang selalu tetap memberikan  dorongan dan stimulus terhadap siswa untuk selalu berprilaku demokrasi
Ketiga, motivasi belajar siswa akan tumbuh disebabkan oleh adanya metode yang bervariatif dalam pembelajaran seperti pembelajaran PKn dengan menggunakan metode sosiodrama, siswa dapat memerankan tokoh lakon yang sesuai dengan keinginannya, selain itu sambil belajar siswa juga menggali kemapuan/potensi yang ada pada dirinya seperti kemampuan berekting atau  bersandiwara.






KATA  PENGANTAR



Bismillahhirrahmanirrahiim,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  STKIP Subang dan penyusunan  skripsi yang berjudul :            “ Profil Pengembangan Metode Sosiodrama dalam Menumbuhkan Sikap Demokrasi Siswa ( Kajian Deskriptif Kualitatif di SDN 5 Tegal Munjul Purwakarta )”. Laporan hasil penelitian ini merupakan syarat  dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan studi pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  STKIP Subang. 
Penulis menyadari hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan penulis, sehingga dengan kerendahan hati penulis mengharapkan berbagai sumbang saran yang konstruktif untuk perbaikan  karya penulis selanjutnya.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memungkinkan  skripsi ini dapat diselesaikan dengan penuh dorongan, semangat yang tinggi  dan motivasi.
Akhir kata, semoga karya penulis ini dapat memberikan manfaat positif bagi semua pihak terutama bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang Pendidikan Kewarganegaraan.
Subang, Agustus 2008
                                                                                               Penulis
UCAPAN TERMA KASIH

Puji syukur panjatkan ke khadirat Allah AWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.  Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahcurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. 
Di samping itu pula, dalam penyusunan skripsi penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada  Bapak Drs. Asep Priatna, M.Pd., selaku Ketua  STKIP Subang yang telah memberikan kesempatan sehingga studi ini  dapat diselesaikan.
Kepada Bapak Drs. H. Nano Sukmana, SE,.M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan STKIP Subang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu, sehingga penyusunan skripsi ini selesai.
Kepada Bapak Tri Wartoro, SE.,S.Pd,.M.M.Pd,. M.Pd, selaku pembimbing I, yang penuh perhatian ditengah kesibukannya, bijaksana dan ikhlas dalam memberikan bimbingan.
Kepada Ibu DR. Ine Kusuma Aryani, M.Pd, selaku pembimbing II, yang tak henti-hentinya memberikan motivasi bagi kelancaran pembuatan skripsi ini hingga selesai.  Sungguh, pemikiran dan pandangan  beliau dalam konteks metodologi keilmuan menjadi teladan bagi penulis.


Kepada Bapak DR. Agus Muharam, M.Pd., Bapak  Drs. Acep Ruswan, M.Pd.,  Ibu Dra. Ana Andriani, M.Pd dan Bapak Andri Nugraha, S.Pd yang selalu memberi dorongan dan arahan dalam segala aktivitas penulis sejak penulis menjadi mahasiswa hingga penyusunan skripsi ini baik secara materil maupun moril dengan penuh ketulusan dan kesabaran.
Kepada Bapak Endik Sodikin, S.Pd., Kepala Sekolah Dasar Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta yang telah memberikan izin dan semangat serta dukungan  dalam penelitian yang penulis laksanakan.
Kepada Bunda Fitri Juwita Sari, A.MK, istriku tercinta dan anandaku M. Aizar Fadlan Ramadhani  atas do’a dukungan dan pengorbanannya sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini dan semua pihak yang telah mendukung dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis.
Selesainya penulisan skripsi ini, diakui masih banyak kelemahan, keterbatasan, dan kekurangan dalam berbagai hal. Oleh karena itu, adanya saran dan kritik dari semua pihak sangat diharapkan.  Semoga karya tulis ini dapat bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan, Amin

Subang,    Agustus   2008
Penulis,


Cevi Nurmaulana Irvan


DAFTAR ISI

       Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................      i
PERNYATAAN........................................................................................      ii
ABSTRAK.................................................................................................      iii
KATA PENGANTAR..............................................................................      iv
UCAPAN TERIMA KASIH....................................................................      v
DAFTAR ISI..............................................................................................      vii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................      1
B. Rumusan Masalah.......................................................................      3
C. Pertanyaan Penelitian..................................................................      3
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian...................................................      4
            E. Difinisi Operasional.....................................................................      5
            F. Asumsi.........................................................................................      6
G. Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data.....................      7
H. Langkah-langkah Penelitian........................................................      8
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Komponen – komponen Belajar Mengajar..................................      10
B. Metode Sosiodrama....................................................................      24
C. Konsep Pembelajaran dengan Menggunakan
    Metode Sosiodrama.....................................................................      25
D. Kelebihan dan Kekurangan Meode Pembelajaran Sosiodrama..      28
E. Hakekat, Fungsi dan Tujuan PKn...............................................      31
F. Demokrasi....................................................................................      34
G. Pembelajaran PKn.......................................................................      36
H. Demokrasi dalam Pendidikan Kewarganegaraan.......................      47
I.  Prilaku Demokrasi dalam Pendidikan Kewarganegaraan............      47


BAB III. METODE PENELITIAN
            A. Metode Penelitian.......................................................................      50
            B. Sumber Data Penelitian...............................................................      51
            C. Teknik Pengumpul Data..............................................................      51
            D. Validasi Data..............................................................................      53
            E. Analisis Data...............................................................................      54
            F. Lokasi dan Agenda Penelitian.....................................................      56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            A.Temuan Penelitian........................................................................      57
            B. Pembahasaan  Terhadap Temuan Penelitan.................................      61
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
            A. Kesimpulan.................................................................................      67
            B. Saran............................................................................................      68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN


















PEDOMAN WAWANCARA


1.      Bagaimana profil pengembangan  pengembangan metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa tentang demokrasi di SDN 5 Munjul Jaya Purwakarta ( meliputi tahap perencanaan sampai dengan tahap evaluasi) ?
·         Guru PKn I
·         Guru PKn II
2.      Bagaimana prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama?
·         Guru PKn I
·         Guru Pkn II
3.      Bagaimana motivasi belajar siswa dengan menggunakan  metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru ?
·         Guru Pkn I
·         Guru PKn II
·         Siswa I
·         Siswa II
4.      Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat dalam penggunaan serta pengembangan  metode sosiodrama dalam pembelajaran PKn dikelas?
·         Guru PKn I
·         Guru PKn II
5.      Solusi atau pemecahan masalah terhadap hambatan  pengembangan metode sosiodrama dalam proses kegiatan belajar mengajar PKn dikelas khsususnya dalam menumbuhkan prilaku demokrasi ?
·         Guru PKn I
·         Guru PKn II


RIWAYAT HIDUP
Penulis benama Cevi Nurmaulana Irvan, dilahirkan di  Sukabumi pada tanggal 5 Mei 1980, merupakan anak pertama dari empat bersaudara, dari pasangan suami istri yang bernama Tjutju  Suparman, S.P dan Neneng Nurjanah.
Pendidikan formal yang telah ditempuh oleh penulis adalah SD Negeri 8 Nagri Kaler Purwakarta, lulus tahun 1992.  Kemudian tahun 1995 lulus Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Purwakarta, dan melanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah Atas ( SPMA) Kab. Karawang dan lulus tahun 1998. Setelah dari SPMA penulis sempat bekerja pada Yayasan Al Fath Jakarta tahun 1998 sampai dengan tahun 1999 sebagai pendamping lapangan  pada Program Pemberdayaan Masyarakat Tani di Kab. Karawang. Tahun 1999 penulis melanjutkan pendidikan untuk menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dan lulus tahun 2002. Kemudian setelah lulus dari IPB penulis melajutkan penddikan di Sekolah Tinggi Pertanian Bale Bandung.
Pada tahun 2004 penulis bergambung dengan Yayasan IQRO Purwakarta dan menjadi staf pengajar  Sekolah Dasar Islam Al Ghozali sampai sekarang. Untuk menambah wawasan keilmuan di bidang pendidikan, tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan program S-1 di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Subang  Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Penulis menikah dengan Fitria Juwita Sari, A.Md.Kep  pada tahun 2007, dan telah dikaruniai seorang putra, yaitu M. Aizar Fadlan Ramadani.
BAB  I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu instrumen bangsa yang memerlukan perhatian khusus dalam pelaksanaan dan pengembangannya.  Pengembangan di bidang pendidikan tidak serta merta berjalan dan bergulir begitu saja, akan tetapi harus ada konsep, strategi, peran serta pengelola pendidikan ( sekolah ) dan pasilitator pendidikan yang dalam hal ini adalah pemerintahan, yang harus aktif dalam mengimplementasikan program-program, cermat dalam melaksanakan evaluasi dan bijak dalam mengeluarkan segala kebijakan pendidikan.
Suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya Pendidikan.   Seperti dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 ( 2003 : 5 ) tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Penjelasan diatas, menjelaskan bahwa hasil belajar yang di inginkan itu betul-betul manusia yang berkualitas secara optimal, sebab bagi bangsa  yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia manusia yang berkualitas itulah yang sangat diperlukan.
Inti dari proses pendidikan secara formal dalam pembelajaran, adalah siswa belajar.  Oleh karena itu belajar mengajar tidak dapat dipisahkan.  Sehingga dalam peristilahan pendidikan kita mengenal ungkapan Proses Belajar Mengajar.
Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) merupakan salah satu bidang studi yang tidak dapat hanya memerlukan hapalan saja, tetapi ditekankan pada pemahamannya.  Umumnya siswa merasa kesulitan dalam mengaplikasikan dalam proses belajar mengajar. 
Sasaran akhir dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi ditekankan pada proses dan hasil belajar siswa. 
Penilaian terhadap kemampuan belajar siswa tidak hanya berdasarkan kesan umum guru tentang tingkah laku siswa, karena hal ini akan sangat subjektif.
Guru dituntut untuk mampu menemukan tingkah laku keseluruhan yang dicapai siswa dari proses belajar mengajar, sehingga hasil penilaian keseluruhan tersebut benar-benar objektif dan dapat dipercaya.
Guru adalah tenaga profesional yang menggunakan keahliannya untuk membantu perkembangan para peserta didik, karena guru berperan sebagai agen pembaharu, pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat. 
Guru juga harus merancang program pembelajaran atas dasar kebutuhan umum maupun kebutuhan perorangan peserta didiknya.
Proses pembelajaran PKn di sekolah diperlukan guru inkuiri ( kreatif ) yang mampu sebagai perencana, pelaksana, pengajaran, fasilitator, administrasi, evaluator, maneger, pengarah, dan pemberi keputusan ( A. Kosasih Djahari, 1985: 7-8 ; Rakmat, 2007 : 13).


Untuk itulah maka proses pembelajaran haruslah ditunjang oleh metodologi pengajaran yang efektif, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.  Adapun metode pengajaran yang bisa dilakukan diantaranya metode demontrasi, observasi, ceramah, diskusi, debat, sosiodrama, dan lain sebagainya.
Sebagai sebuah proses tindak lanjut pengembangan dan peningkatan proses pembelajaran efektif, maka penulis mencoba melakukan penelitian, metode  yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran PKn di kelas 5 Sekolah Dasar ( SD ) salah satu di antaranya adalah metode Sosiodrama.
B.  Perumusan  Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan untuk memudahkan proses penelitian, penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimana profil pengembangan  metode sosiodrama dalam menumbuhkan prilaku demokrasi siswa di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta” .
C.  Pertanyaan Penelitian
            Masalah yang menjadi kajian  dalam penelitian ini dapat dijabarkan  dalam beberapa pertanyaan penelitian, sebagai berikut :
1.      Bagaimana profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap  pemahaman siswa mata pelajaran PKn kelas 5 pada Bab Mengenal Keputusan Bersama?
2.      Bagaimana prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama?
3.      Bagaimana motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru?
D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.                  Tujuan Penelitian
Penelitian yang berjudul : “Profil pengembangan  metode sosiodrama dalam menumbuhkan  prilaku demokrasi siswa di SD Negeri 5 Munjul Jaya  Purwakarta” , bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan deskripsi tentang :
a.       Profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap  pemahaman siswa mata pelajaran PKn kelas 5 pada Bab Mengenal Keputusan Bersama.
b.      Prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama.
c.       Motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru.
2.                  Manfaat  Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan disekolah yang berkaitan dengan prilaku demokrasi siswa sehingga mampu mengatasi dan memecahkan masalah dimasa yang akan datang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, dan diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain:
a. Manfaat penelitian secara teoritis adalah :
1)      Dapat memberikan bahan masukan terutama bagi guru PKn dalam kewajibanya menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas.
2)      Dapat memberikan sumbangan fikiran sebagai para pengambil kebijakan yang mengupayakan pengembangan  penerapan  metode sosiodrama dalam mata pelajaran PKn terhadap prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama  di sekolah.
b. Manfaat penelitian secara praktis adalah :
1)      Memberikan gambaran tentang profil pengembangan metode sosiodrama dalam mata pelajaran PKn kelas 5 di SDN 5  Munjul  Jaya   Purwakarta.
2)      Memberikan gambaran tentang prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama  kelas 5 SDN 5  Munjul Jaya  Purwakarta.
3)      Memberikan gambaran motivasi siswa belajar dalam menentukan keputusan bersama melalui  metode sosiodrama.
E.     Difinisi Operasional
Untuk menghindari  terjadi kesalah pahaman peneliti dan pembaca, maka penulis memberikan penjelasan difinisi operasional mengenai judul penelitian tersebut diatas, sebagai berikut :
a.       Profil merupakan ihtisar yang memberikan  fakta-fakta  dalam hal khusus ( Kamus  Besar Bahasa Indonesia,1999 : 789 ).
b.      Pengembangan merupakan proses, cara, perbuatan mengembangkan          ( Kamus Besar  Bahasa Indonesia,1999 : 143 ).
c.       Metode Sosiodrama adalah Suatu model pembelajaran dengan cara mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, dengan tujuan siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, berbagi tanggung jawab, mengambil keputusan dalam stuasi kelompok secara spontan dan nmerangsang siswa untuk berpikir dan memecahkan masalah. ( Syaiful Bahri. 1995 : 100 )
d.      Menumbuhkan adalah menjadikan ( menyebabkan ) tumbuh; memperkembangkan “latihan-latihan itu untuk bakat yang telah ada pada anak-anak”. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 1081 ).
e.       Prilaku adalah respons atau reaksi yang berada  dalam batas kewajaran dan kenormalan terhadap stimulus lingkungan sosial ( Azwar, 1995 :10).  Prilaku lebih menitik beratkan pada tidakan atau perbuatan.           
f.       Demokrasi adalah pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung ( melalui perwakilan ) setelah adanya proses pemilihan umum.
g.      Siswa atau peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu ( Diknas, UU No. 20 Tahun 2003 : 3 ).
F.   Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar adalah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik ( Winarno Surachman, 1998 : 107 ; Asmayawati, 2008 : 14 ).  Sesuai dengan pengertian tersebut, maka anggapan dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Aspek kompetensi pendidikan kewarganegaran yang mencakup pengetahuan kewarganegaran atau Civic Knowledge, keterampilan kewarganegaraan atau Civic Skill , dan watak atau karakter kewarganegaraan atau Civic Dispositions  perlu dikembangkan kepada siswa dalam membentuk warga negara yang demokrasi.
2.  Guru berperan sebagai agen pembaharu, pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat terutama dalam upaya menumbuhkan prilaku yang demokrasi siswa dalam pembelajaran PKn.
3.  Sekolah merupakan  salah satu lingkungan yang berpengaruh dalam proses pembelajaran yang dapat menumbuhkan prilaku siswa  menjadi anggota masyarakat yang kritis, kreatif dan inovatif.
4. Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibanya untuk menjadi warga negara yang cerdas, trampil dan berkarakter.
G.  Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
      1. Metode Penelitian
 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang menguraikan kejadian-kejadian yang bersifat aktual dan terjadi pada saat penelitian sedang berlangsung.  Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan dan menginterpretasi obyek sesuai dengan  apa adanya       ( Sukadi, 2003 : 157 ; Asmayawati ,2008 : 15 ).
            Penelitian dilaksanakan  untuk menggambarkan secara sistematis tentang fenomena mengenai profil pengembangan metode sosiodrama, keterampilan mengajar guru dan teknik mengajar guru dalam rangka menumbuhkan prilaku demokrasi siswa dalam pembelajaran PKn disekolah. 
      2. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian yang terkumpul melalui teknik pengumpulan data yang dipilih, selanjutnya dianalisis secara induktif untuk mendapatkan makna dari kondisi alam yang ada. 
Proses pemaknaan terhadap data yang dilakukan peneliti berdasarkan interpratasi bersama peneliti dengan subyek penelitian dengan tujuan  mempertajam hasil penelitian  terhadap data penelitian  yang terkumpul berupa analisis terhadap pernyataan  yang dikemukakan subjek penelitian serta analisis isi dari tema yang terkandung dalam kajian teoritis ( Asmayawati, 2008 : 16 ).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian  kualitatif  deskriptif dengan teknik studi dokumentasi, wawancara dan observasi.
H.  Langkah – langkah Penelitian
            Secara umum pelaksanaan penelitian ini melalui  tahapan-tahapan sebagai berikut : (a) tahapan persiapan, (b) tahapan pelaksanaan/pengumpulan data, ( c ) tahap pengolahan data.
      1. Tahap Persiapan Penelitian
          a. Menetapkan tempat penelitian, yaitu di SD Negeri 5 Munjul Jaya      Purwakarta
           b. Mempersiapkan intrumen penelitian untuk pengumpulan data
           c. Mempersiapkan kelengkapan penelitian.


       2. Tahap Pengumpulan Data
           a. Penyebaran intrumen penelitian atau alat penelitian berupa pertanyaan
               penelitian pada guru PKn kelas 5, baik dalam teknik wawancara
               maupun jawaban tertulis.
           b. Pemeriksaan jawaban intrumen penelitian
           c. Dari data yang terdapat dalam intrumen penelitian merupakan
               kesimpulan yang mendukung penelitian.
       3. Tahap Pengolahan Data
            Setelah data terkumpul, maka oleh penulis diolah dengan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data sebagaimana yang telah ditentukan.













BAB   II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Komponen – Komponen Belajar Mengajar
            Sebagai suatu sistem tentu saja  kegiatan belajar mengajar  mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi
      1.  Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.  Tujuan  dalam pendidikan  dan pelajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan pembelajaran terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik ( Pupuh F, 2007 : 13 ).
            Tujuan  pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan  perilaku               ( performance ) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka  mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan (Ny. Dr. Roestiyah. N.K, 1989 : 43 ; Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 49 ).  
Disimpulkan bahwa tujuan merupakan satu elemen dalam pembelajaran yang perlu diperhatikan sebelum proses kegiatan belajar dimulai, karena dengan merumuskan tujuan diharapkan nilai – nilai  yang kita sampaikan dapat tercapai sesuai keinginan.




      2. Bahan Pelajaran
            Bahan pelajaran adalah substansi yang akan di sampaikan  dalam proses  belajar mengajar. Bahan adalah salah satu sumber belajar  bagi anak didik.  Bahan yang disebut sebagai sumber belajar ( pengajaran )  ini adalah sesuatu yang membawa pesan  untuk tujuan  pengajaran. ( Sudirman. N.K, 1991 :  203 ).
            Bahan pelajaran menurut  Suharsimi Arikunto ( 1990 : 114 ) merupakan unsur inti yang ada dalam  kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan  pelajaran  itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik.
            Bahan /materi merupakan  medium untuk mencapai  tujuan pembelajaran  yang “ dikonsumsi “ oleh peserta didik.  Bahan ajar merupakan materi yang terus  berkembang secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan  perkembangan masyarakat. ( Pupuh F, 2007 : 14 ).
            Berdasarkan  pengertian yang dikemukakan di atas dapat dismpulkan  bahwa bahan pelajaran merupakan suatu komponen utama dalam proses kegiatan belajar siswa dikelas, karena dengan adanya bahan pelajaran diharapkan akan terjadinya suatu tranformasi ilmu yang pada akhirnya dapat dikuasai siswa menuju suatu perubahan.
      3. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu  yang telah diprogramkan  akan dilaksanakan  dalam proses belajar mengajar ( Syaiful  Bahri .dan  Zain, 1995 : 51 ).


            Untuk memperoleh hasil yang optimal, sebaiknya guru memperhatikan  perbedaan individual peserta didik, baik aspek biologis, intelektual, maupun psikologis.  Kerangka berfikir demikian  dimaksudkan agar  guru mudah  dalam melakukan  pendekatan  kepada setiap anak didik  secara individual (Pupuh F. dan Sobry, 2007  : 15 ).
Berdasarkan pengertian di atas, untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam proses pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar.  Hal ini dilakukan dalam rangka proses tranformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik. 
       4. Metode
Metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mecapai tujuan pengajaran.
            Pentingnya pemilihan dan penentuan metode, maksudnya adalah melakukan pemilihan dan penetuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan.  Pemilihan dan penentuan metode ini didasarkan adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Surya ( 2003 : 71 ) mengemukakan bahwa :
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode, maksudnya adalah bahwa metode pengajaran itu tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi faktor-faktor lain.  Secara umum yang mempengaruhi faktor-faktor dalam penentuan metode pengajaran adalah anak didik, tujuan pengajaran, stuasi belajar mengajar, fasilitas dan faktor guru itu sendiri .

            Kegiatan belajar mengajar disekolah tidak semua siswa atau anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama, daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, sedang, dan lambat.
 Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.  Jadi, guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan  pengajaran
            Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) siswa merupakan subjek pembelajaran oleh karena itu siswa merupakan orang yang melakukan kegiatan belajar. Sebagai pelajar, siswa harus berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dilain pihak guru bertugas memfasilitasi siswa sebagai pelajar agar dapat belajar secara optimal dan penuh makna.  Dengan demikian, tugas utama guru adalah membuat siswa belajar.
            Kaitanya dengan  pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran sosiodrama, tampak jelas bahwa guru pendidikan kewarganegaraan sebagai pembelajar berfungsi sebagai fasilitator, organisator, atau moderator.  Sedangkan siswa sebagai pelajar benar-benar melakukan kegiatan belajar, baik secara mental maupun secara  emosional. Disinilah tampak pentingnya guru memiliki keterampilan membimbing siswa.
            Metode secara  harfiah  berarti ‘ cara ‘.  Dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu (Pupuh F. dan Sobry , 2007 : 55 )
            Sedangkan menurut Prof. Dr. Winarno Surahman ( 1961: 64 ) dalam Drs. B.Suryo Subirto (2002 : 148 ), menegaskan bahwa  metode pengajaran adalah Cara-cara pelaksanaan  dari pada  proses pengajaran, atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan  kepada murid-murid disekolah.
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan  untuk mencapai tujuan  yang telah ditetapkan.  Dalam kegiatan belajar mengajar, ,metode diperlukan  oleh giuru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. 
Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan  tugasnya bila dia tidak  menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan  dan dikemukakan  para ahli psikologi dan pendidikan ( Syaiful bahri  dan  Zain, 1995 : 53 ).
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal ( Wina Sanjaya, 2006 : 145 )
Metode mengajar ialah cara yang digunakan  guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (Nana Sudjana, 1987 : 76 ).  
Metode mengajar/teknik penyajian adalah suatu pengetahuan  tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan  oleh guru atau instruktur.  Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut  dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. ( Roestiyah N.K,  2008 : 1 ).
Metode adalah cara guru menyampaikan  materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu ( Anonim, 2006 : 13 )
Winarno Surakhman ( 1961 : 65) dalam  Syaiful  Bahri  ( 1995 : 53 - 54 ) mengemukakan lima faktor yang mempengaruhi  penggunaan metode mengajar, yakni :
a.       Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya
b.      Anak didik dengan berbagai  tingkat kematangannya
c.       Situasi berlainan keadaannya
d.      Fasilitas bervariasi secara kualitas dan kuantitasnya
e.       Kepribadian dan kompetensi guru yang berbeda-beda

Berdasarkan berbagai pendapat yang dikemukan diatas dapat dikatakan metode merupakan suatu cara yang harus dikuasai oleh guru dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan adanya metode guru mampu mentranfer ilmu pengetahuan pada peserta didik sehingga timbul satu perubahan sikap atau prilaku keinginan untuk belajar.
a.  Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
              Salah satu  usaha yang tidak pernah  guru tinggalkan  adalah, bagaimana memahami kedudukan  metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan  kegiatan belajar mengajar. Menurut Syaiful Bahri  dan  Zain ( 1995 : 7 ) mengemukakan kedudukan metode, yaitu sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran dan sebagai alat untuk  mencapai tujuan.
 1) Metode Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
                  Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar.  Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang ( Sardiman A.M.,1988 : 90 ; Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 83 ).  Dengan adanya suatu metode dalam pembelajaran mampu menimbulkan  perangsang terhadap keingin tahuan  siswa untuk belajar terhadap hal-hal yang baru bahan materi, dengan  begitu akan mudah dalam melaksanakan pembelajaran
 2) Metode Sebagai Strategi Pengajaran
                 Kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan  juga bermacam-macam, ada yang cepat, sedang dan lambat. Faktor intelegensi berpengaruh terhadap daya serap anak didik  terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut diperlukan strategi pengajaran  yang tepat. Metodelah salah satu jawabanya.
             Guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efesien, mengena pada tujuan  yang diharapkan.  Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar (Dra. Roestiyah. N.K, 1989 : 45 ; Syaiful Bahri dan Zain. ( 1995 ; 84 ).
            Dapat disimpulakan bahwa, setiap kegiatan belajar mengajar guru terlebih dahulu harus mampu menyusun strategi yang tepat sesuai dengan materi yang akan disampaikan.  Strategi pembelajaran tersebut salah satunya adalah pengunaan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan, dengan adanya suatu metode guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu terjadinya proses pembelajaran pada siswa.
3) Metode Sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah pedoman yang memberi arah  ke mana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Metode adalah pelicin jalan pengajaran menuju tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan  harus disesuaikan  dengan tujuan. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang.  Artinya metode harus menunjang pencapaian tujuan pengajaran ( Saiful Bahri  dan  Zain, 1995 : 85 ).
Dapat disimpulkan bahwa, untuk mencapai sasaran atau tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya, diperlukan suatu metode yang sesuai dengan tujuan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, metode merupakan suatu alat untuk sampai pada tujuan.
            b.  Prinsip-prinsip Penentuan Metode
            Metode mengajar yang digunakan guru dalam setiap pertemuan kelas bukanlah asal pakai, tetapi setelah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional khusus. 
Metode apapun yang dipilih dalam kegiatan  belajar mengajar hendaklah memperhatikan beberapa prinsip yang mendasari urgensi metode dalam proses belajar mengajar. Menurut Pupuh F. dan  Sobry ( 2007 : 56 ) prinsi - prinsip penentuan metode, antara lain :
1)      Prinsip motivasi dan tujuan belajar.
Motivasi memiliki kekuatan sangat dahsyat dalam proses pembelajaran. Belajar tanpa motivasi seperti badan tanpa jiwa, atau laksana mobil tanpa bahan bakar.
2)      Prinsip kematangan  dan perbedaan individual
Belajar memiliki masa kepekaan masing-masing dan tiap anak memiliki ntempo kepekaan yang tidak sama.
3)      Prinsip penyediaan peluang dan pengalaman praktis
Belajar dengan memperhatikan peluang sebesar-besarnya bagi partisifasi anak didik dan pengalaman langsung oleh anak jauk memiliki makna ketimbang belajar verbalistik
4)      Integrasi pemahaman dan pengalaman
Penyatuan pemahaman dan pengalaman menghendaki suatu proses pembelajaran yang mampu menerapkan pengalaman nyata dalam suatu daur proses belajar.  Prinsip belajar ini didasarkan  pada asumsi bahwa pengalaman mendahului proses belajar bdan isi pengajaran atau makna sesuatu mharus berasal dari pengalaman siswa sendiri.
5)      Prinsip fungsional
Belajar merupakan proses pengalaman hidup yang bermanfaat bagi kehidupan berikutnya.  Setiap belajar nampaknya tidak bisa lepas dari nilai manfaat, sekalipun bisa berupa nilai manfaat teoritik atau praktis bagi kehidupan sehari-hari.
6)      Prinsip menggembirakan
Belajar merupakan proses yang terus berlanjut tanpa henti, tentu seiring kebutuhan dan tuntutan yang terus berkembang.  Berkaitan dengan kepentingan belajar yang terus menerus, maka metode mengajar jangan sampai memberi kesan memberatkan, sehingga belajar pada anak cepat berakhir.

             Berdasarkan pendapat yang telah dikemukan  di atas dapat disimpulkan, bahwa sebelum penggunaan metode dalam proses kegiatan belajar mengajar kita terlebih dahulu harus dapat mengetahui prinsip-prinsip dalam menetukan metode, sehingga ketika metode tersebut diterapakan dalam pembelajaran tidak menimbulkan kebosan di antara para peserta didik tetapi sebaliknya dapat menumbuhkan semangat belajar yang sangat tinggi sehingga kegiatan pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan.
c.  Nilai Strategi Metode
Metode merupakan fasilitas untuk mengantarkan  bahan pelajaran dalam upaya mencapai tujuan.  Oleh karena itu, bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan  pemakaian metode justru akan mempersulit guru  dalam mencapai tujuan pengajaran.
Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan  pengajaran salah satu faktornya  disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat.  Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai  dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan  tujuan pengajaran ( Pupuh F. dan Sobry , 2007 : 59 ).
  Dapat disimpulkan bahwa, metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis  dalam kegiatan belajar mengajar. Dikatakan demikian  karena metode dapat berpengaruh terhadap jalannya kegiatan belajar mengajar.
d.  Efektivitas Penggunaan Metode
            Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan  tujuan pembelajaran akan menjadi kendala dalam pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.  Cukup banyak bahan pelajaran  yang terbuang  dengan percuma hanya karena penggunaan metode semata-mata berdasarkan kehendak guru bukan atas dasar kebutuhan  siswa, atau karakter stuasi kelas.
Penetapkan metode mengajar, bukan tujuan yang menyesuaikan dengan metode atau karakter anak, tetapi metode hendaknya menjadi “variabel dependen” yang dapai merubah dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. ( Pupuh F. dan Sobry, 2007 : 59 ).
Berdasarkan hal tersebut, efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian  antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam  satuan pelajaran sebagai persiapan tertulis.


e.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode
            Menurut Pupuh F. dan  Sobry  ( 2008 : 60 ) megemukakan ada beberapa faktor  yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode antara lain :
1)      Tujuan yang hendak dicapai
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar.  Setiap guru hendaknya memperhatikan  tujuan pembelajaran.  Karakteristik tujuan yang akan dicapai sangat mempengaruhi penentuan metode, sebab metode tuntuk pada tujuan, bukan sebaliknya.
2)      Materi Pelajaran
Materi Pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak disampaikan oleh guru untuk bisa dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik.
3)      Peserta didik
Peserta didik sebagai  subjek belajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik minat, bakat, kebiasaan, motivasi, situasi sosial, lingkungan keluarga dan harapan terhadap masa depannya.  Perbedaan peserta didik dari aspek psikologis seperti sifat pendiam, super aktif, tertutup, terbuka, periang, pemurung, bahkan ada yang menunjukkan prilaku-prilaku yang sulit dikenal. Semua perbedaan tadi akan berpengaruh terhadap penentuan metode pembelajaran.
4)      Situasi
Setuasi kegiatan belajar  merupakan setting lingkungan  pembelajaran yang dinamis.  Guru harus teliti dalam melihat situasi.  Oleh karena itu, pada waktu tertentu guru melakukan proses pembelajaran di luar kelas atau di alam terbuka.
5)      Fasilitas
Fasilitas dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan  metode mengajar.  Oleh karena itu, ketiadaan fasilitas akan sangat mengganggu pemilihan metode yang tepat, seperti tidak adanya laboratorium untuk praktek, jelas kurang mendukung penggunaan metode eksperimen atau demontrasi.
6)      Guru
Setiap orang memiliki kepribadian, performance style, kebiasaan dan pengalaman mengajar yang berbeda-beda.  Kompetensi mengajar biasanya dipengaruhi pula oleh latar pendidikan.  Guru yang berlantar belakang pendidikan keguruan biasanya lebih terampil dalam memilih metode dan tepat dalam menerapkannya, sedangkan guru yang latar belakang pendidikannya kurang relevan, sekalipun tepat dalam menentukan metode, namun sering mengalami hambatan dalam penerapannya.  Jadi, untuk menjadi seorang guru pada intinya harus memiliki jiwa yang profesional.

            Berdasarkan pendapat di atas disimpulkan bahwa, penggunaan metode dalam proses pembelajaran yang perlu diperhatikan selain prinsip – prinsip dalam pemilihan metode, juga harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap pemilhan metode, karena pemilihan metode yang  tepat berpengaruh pula terhadap hasil yang kita inginkan.
f.   Macam-macam Metode Mengajar
            Macam-macam jumlah metode mengajar mulai yang paling tradisional sampai yang paling modern, sesuangguhnya banyak dan hampir tidak dapat dihitung dengan jari-jari tangan.
Menurut Martinis Yamin ( 2003 : 64 ) mengemukakan beberapa metode yang memungkinkan  diterapkan  di dalam kelas, antara lain :
Metode Ceramah, Metode  Demontrasi dan Eksperimen, Metode Tanya Jawab, Metode Penampilan, Metode Diskusi, Metode Studi Mandiri, Metode Pembelajaran terprogram, Metode Latihan bersama teman, Metode Simulasi, Metode Pemecahan Masalah, Metode Studi Kasus, Metode Insiden, Metode Praktikum, Metode Proyek, Metode Bermain Peran ( sosiodrama ), Metode Seminar, Metode Simposium, MetodeTutorial, Metode Deduktif dan Metode Induktif.  

Banyak berbagai macam metode yang dapat kita gunakan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar dengan tujuan untuk memberikan nuansa yang berbeda-beda dalam setiap kegiatan sehingga tidak membosankan anak.  Selain itu, penggunaan metode dalam kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan kebutuhan proses pembelajaran.



5.  Alat
Alat merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai  tujuan pengajaran.  Dalam proses pengajaran maka alat mempunyai fungsi  sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan ( Ahmad , 1991: 47 ).
            Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat verbal dan alat bantu non verbal.  Alat verbal beruba suruhan, perintah, larangan dan sebagainya.  Sebagai alat bantu non verbal berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide, vidio dan lain sebagainya ( Pupuh F. dan Sobry , 2007 : 15 ). 
 Dapat disimpulkan bahwa, dalam proses pembelajaran perlu suatu alat yang dapat mentransfomasikan bahan ajar sehingga timbul interaksi antara guru dan siswa dengan baik.  Dengan adanya alat memudahkan guru untuk menyampaikan informasi/bahan ajar pada siswa.
6.  Sumber Pelajaran
            Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran bisa didapat.  Sumber pelajaran  dapat berasal dari masyarakat dan kebudayaannya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan anak didik (Pupuh F,  2007 : 16 ).
Sedangkan menurut Udin Saripudin dan Rustana Ardiwinata (1991 : 165 ), yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran  terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Untuk mendapat gambaran apa saja yang termasuk kategori sumber-sumber belajar, berikut dikemukakan pendapat-pendapat :
            Ny. Dr. Roestiyah. N.K. ( 1989 : 53 ) mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah :
a. Manusia ( dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat );
b. Buku/perpustakaan ;
c. Mass media ( majalah, surat kabar, radio, tv, dan lain-lain );
d. Dalam lingkungan
e. Alat pelajaran ( buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis,
    kapur, spidol, dan lain-lain );
f.  Museum ( tempat penyimpanan benda-benda kuno ).

Pendapat lain tentang sumber belajar diungkapkan oleh Drs. Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata ( 1991: 165 )  bahwa, terdapat sekurang-kurangnya lima macam sumber belajar, yaitu :
a. Manusia;
b.Buku/perpustkaan;
c. Media massa;
d.      Alam lingkungan :
1)      Alam lingkungan terbuka;
2)      Alam lingkungan sejarah atau peinggalan sejarah ;
3)      Alam lingkungan manusia.
e.       Media pendidikan.

            Memperhatikan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa sumber belajar merupakan sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai bahan pelajaran peserta didik.  Sumber pembelajaran dapat diperoleh salah satunya dari pengalaman dan lingkungan sekitar.
7.  Evaluasi
            Evaluasi ini perlu dilakukan sebab untuk melihat sejauh mana baik bahan yang diberikan  kepada peserta didik dengan metode tertentu dan sarana yang telah ada dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan. ( Rosady Ruslan, 2006 : 158 ).
Sedangkan menurut Drs. B. Suryo Subirto ( 2002 : 150 ) mengatakan  penilaian dimaksudkan untuk melihat kemajuan belajarnya murid disuatu saat, atau untuk  mengetahui sejauh mana tujuan  pendidikan  telah didekati.
            Dapat disimpulkan bahwa, evaluasi merupakan  suatu kegiatan akhir dalam KBM, dengan tujuan  untuk mengetahui perkembngan pembelajaran siswa dan sebagai tolak ukur keberhasilan guru dalam menyampaikan bahan ajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
B.  Metode Sosiodrama
            Dari beberapa metode yang telah disampaikan diatas, yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini adalah Metode Sosiodrama. Adapun pengertian Metode Sosiodrama menurut para ahli, yaitu :
Menurut  Syaiful Bahri D dan  Zain ( 1995 : 100 ) mengemukakan bahwa :
Metode sosiodrama dan role playing adalah suatu model pembelajaran dengan cara mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial, dengan tujuan siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, berbagi tanggung jawab, mengambil keputusan dalam stuasi kelompok secara spontan dan nmerangsang siswa untuk berpikir dan memecahkan masalah.

Pendapat lain tentang metode sosiodrama diungkapkan oleh Martinis Yamin (2003 : 76 ) bahwa:
Metode bermain peran adalah metode yang melibatkan interaksi antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi.  Siswa melakukan peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang ia lakoni, mereka berinteraksi sesama mereka melakukan peran terbuka.

Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan Wina Sanjaya ( 2006 : 158), yaitu :
Metode sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah soasial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.

Menurut Roestiyah N.K ( 2008 : 90 ) mengemukakan :
Sosiodrama adalah siswa dapat mendramatisasikan tingkah laku, atau uangkapan gerak gerik wajah seseorang dalam hubungan sosial antara manusia. Atau dengan roll playing dimana siswa bisa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah sosial/psikologis itu.

Menurut Rahmat  ( 2007 ; 16 ) mengemukakan, yaitu :
Dramatisasi adalah metode mengajar dimana sekelompok siswa ditugasi memerankan atau membawakan  suatu cerita atau drama baik cerita fiktif maupun  cerita sejarah.  Misalnya dramatisasi cerita yang bertemakan kejujuran.  Dramatisasi cerita Maling Kundang untuk meresapi akibat buruk  atau hukuman bagi nak yang durhaka kepada ibunya.
           
            Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa, metode sosiodrama merupakan suatu metode pembelajaran dimana siswanya dapat memainkan suatu peranan dari prilaku sesorang dalam suatu peristiwa masalah-masalah sosial yang sedang terjadi dimasyarakat.
C.  Konsep Pembelajaran dengan Menggunakan Metode Sosiodrama
            Seperti yang telah dikemukkan terdahulu, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan  yang telah disusun tercapai secara optimal.  Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peranan sangat penting. Salah satu metode sistem pembelajaran tersebut adalah metode sosiodrama.
Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah ( script ) dan tanpa latihan terlebih dahulu, sehingga dilakukan secara sepontan.   Masalah yang didramatisasikan adalah mengenai situasi sosial.  Sosiodrama akan menarik bila situasi yang sedang memuncak, kemudian dihentikan.  Selanjutnya diadakan diskusi, bagaimana jalan cerita seterusnya, atau pemecahan masalah  selanjutnya.    ( Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 115 ).
Tujuan yang diharapakan dengan penggunaan motode sosiodrama antara lain, menurut syaiful Bahri dan Zain ( 1995 : 100) :
a.  Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
b.  Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
c.  Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok
     secara spontan.
d.        Merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah

Roestiyah N.K ( 2008 : 90 ), mengemukakan tujuan dari teknik sosiodrama adalah agar siswa dapat memahami perasaan orang lain; dapat tepo seliro dan toleransi.  Sedangkan menurut Wina Sanjaya ( 2006 : 159 ), sosiodrama digunakan  untuk memberikan pemahaman  dan penghayatan akan masalah – masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.
Dalam pelaksanaan  metode sosiodrama  agar berhasil dengan  efektif, menurut Roestyah N.K 9 (2008 : 91) perlu  mempertimbangkan beberapa langkah-langkahnya, ialah :
a.  Guru harus menerangkan kepada siswa, untuk memperkenalkan teknik ini,  bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada dimasyarakat, maka kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang akan berpera; masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya.  Dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula.
b.  Guru harus memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat anak. Ia mampu menjelaskan dengan menarik, sehingga siswa terangsang untuk berusaha memecahkan masalah itu.
c.  Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus bias menceritakan sambil untuk mengatur adegan yang pertama.
d.   Bila ada kesedian sukarela  dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi
      tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya itu. Bila tidak ditunjuk saja siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan  serta pengalaman seperti yang diperankan itu.
e.  Jelaskan pada pemeran-pemeran itu sebaik-baiknya, sehingga mereka tahu  tugas peranannya, menguasai masalahnya pandai bermimik maupun brerdialog.
f.    Siswa yang tidak turut harus menjadi penonton yang aktif, disamping
   mendengar dan melihat, mereka harus bias memberi saran dan kritik   pada  apa yang akan dilakukan setelah sosiodrama selesai.
g.   Bila siswa belum terbiasa, perlu dibantu guru dalam  menimbulkan
      kalimat pertama dalam dialog.
h.   Setelah sosiodrama itu dalam situasi klimaks, maka harus diberhentikan,
      agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat di diskusikan secara umum.  Sehingga para penonton ada kesempatan untuk berpendapat, menilai permainan dan sebagainya,
i.  Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, walau mungkin masalahnya belum terpecahkan, maka perlu dibuka tanya jawab, diskusi atau membuat karangan yang berbentuk sandiwara.

Pendapat lain tentang langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan dalam metode sosiodrama  seperti yang dikemuksksn  Syaiful Bahri dan Zain ( 1995  : 100 ), yaitu :
a. Tetapkan  dahulu masalah-masalah soasial yang menarik perhatian
    siswa untuk dibahas.
b. Ceritakan kepada kelas ( siswa ) mengenai isi dari masalah-masalah 
    dalam konteks cerita tersebut.
c. Tetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan
    peranannya di depan kelas.
d. Jelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu
    sosiodrama sedang berlangsung.
e. Beri kesempatan kepada pelaku untuk berunding beberapa menit
    sebelum mereka memainkan peranannya.
f. Akhiri sosiodrama pada waktu situasi pembicaraan mencapaian
   ketegangan.
g. Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama
    memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut.
h. Jangan lupa menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan
 pertimbangan lebih lanjut.

            Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa, dalam pelaksanaan metode sosiodrama terdapat langkah-langkah yang perlu menjadi pertimbangan oleh setiap guru, karena dengan memperhatkan langka-langkah tersebut metode sosiodrama dapat dilaksanakan dengan baik dan sessuai dengan tujuan dalam pembelajaran.
D.  Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Sosiodrama
            Metode sosiodrama selain  mempunyai beberapa kelebihan, juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagai berikut :
1. Kelebihan  Metode Sosiodrama
a.  Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatana siswa harus tajam dan tahan lama.
b.  Siswa akan terlatih untuk berinisiatif  dan berkreatif. Pada waktu main drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
c.  Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga memungkinkan  akan muncul atau tumbuh bibit seni drama bdari sekolah.  Jika seni drama mereka dibina dengan baik kemungkian besar mereka akan menjadi pemain yang baik  kelak.
 d. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
 e.  Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
 f.  Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain. ( Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 101 ).
 g.  Dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
 h. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi situasi sosial yang problematis.
i.  Dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran ( Wina Sanjaya, 2006 : 158 ).
              Selain itu kelebihan dari metode sosiodrama, yakni  siswa lebih tertarik perhatiannya pada pelajaran, karena masalah-masalah sosial sangat berguna bagi mereka.  Karena mereka bermain peranan sendiri, maka mudah memahami masalah-masalah sosial itu, maka ia  dapat menempatkan diri seperti watak orang lain itu. 
Ia dapat merasakan perasaan orang lain, dapat mengakui pendapat orang lain, sehingga menumbuhkan sikap saling pengertian, tenggang rasa, toleransi, toleransi dan cinta kasih terhadap sesama  mahkluk akhirnya siswa dapat berperan dan menimbulkan diskusi yang hidup, karena merasa menghayati sendiri permasalahannya.  Juga penonton tidak pasif, tetapi aktif mengamati dan mengajukan saran dan kritik ( Roestiyah N. K, 2008 : 93 ).           
2.   Kelemahan Metode Sosiodrama
a.  Pengalaman yang diperoleh melalui sosiodrama tidak selalu tepat dan  sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b.  Pengelolaan yang kurang baik, sering sosiodrama dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
c. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan sosiodrama. ( Wina Sanjaya, 2006 : 158 ).
      Kelemahan lain dari metode sosiodrama, yaitu :
a.  Sebagian besar anak  yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif.
b. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukkan.
c.  Memerlukan tempat cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang baik.
d.  Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya. ( Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 102 ).
e. Guru tidak menguasai tujuan intruksional penggunaan teknik sosiodrama untuk suatu unit pelajaran, maka sosiodramanya juga tidak berhasil.
f.  Dengan sosiodrama jangan menjadi kesempatan untuk menumbuhkan sifat prasangka yang buruk, ras diskriminasi, balas dendam dan sebagainya sehingga menyimpang dari tujuan semula.
g.  Bila guru tidak memahami langkah-langkah pelaksanaan metode ini, sehingga mengacaukan berlangsungnya sosiodrama.
      ( Roestiyah, 2008: 93)
Dapat disempulkan bahwa, dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode sosiodrama memiliki kelebihan yang dapat menumbuhkan potensi dan bakat yang terdapat pada setiap peserta didik untuk dikembangkan, sehingga dengan potensi dan bakat yang ada, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengahadapi berbagai persoalan dan pemecahanya.
Kelemahan yang terdapat pada metode sosiodrama, seyogyanya guru sebagai fasilitator , pengarah dan pembimbing harus memiliki kemampuan untuk dapat meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut sehingga tidak menghambat proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.
E.  Hakikat, fungsi dan Tujuan PKn
            Guru adalah tenaga profesional yang menggunakan keahlianya untuk membantu perkembangan para peserta didiknya, karena guru berperan  sebagai agen pembaharu, pemimpin dan pendukung nilai-nilai masyarakat. Guru juga harus merancang program pembelajaran atas dasar kebutuhan  umum maupun kebutuhan  perseorangan peserta didiknya.
            Selanjutnya guru yang baik adalah guru yang mau melihat dan menyerap perasaan siswanya, mempunyai pengertian  tinggi atas hal tersebut, percaya siswa memiliki kemampuan, mampu berperan  sebagai fasilitator ( pemberi kemudahan, kelancaran dan keberhasilan ) dan mampu melaksanakan peran sebagai guru inkuiri.
            Hal ini berkaitan dengan karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan paradikma baru, yaitu bahwa PKn merupakan suatu bidang kajian  ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan diterima  sebagai wahana utama serta esensi pendidikan demokrasi di Indonesia yang dilaksanakan melaui :
1.   Civic Intellegence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik
       dalam  dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial.
2.  Civic Responsibiliy, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
3.      Civic Participation, yaitu kemapuan berpartisipasi warga negara atas dasar tanggung jawabnya, baik secara individual, sosial, maupun sebagai pemimpin hari depan.
Sejalan dengan kompetensi-kompetensi yang hendak diwujudkan melalui mata pelajaran Kewarganegaraan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu :
1.      Kompetensi untuk menguasai pengetahuan kewarganegaraan.
a.       Memahami tujuan pemerintahan dan prinsip-prinsip dasar kontitusi pemerintahan  Republik Indonesia.
b. Mengetahui struktur, fungsi dan tugas pemerintahan  daerah dan nasional serta bagaimana keterlibatan warga negara  membentuk kebijaksanaan publik.
c.  Mengetahui hubungan negara dan bangsa Indonesia  dengan negara-negara dan bangsa-bangsa lain berserta masalah-masalah dunia dan atau internasional.



2.  Kompetensi untuk menguasai keterampilan kewarganegaraan.
a. Mengambil atau menetapkan  keputusan yang tepat melaui proses pemecahan masalah dan inkuiri.
b.Mengevaluasi kekuatan dan kelemahan suatu isu tertentu.
c.       Menentukan atau mengambil sikap guna mencapai suatu posisi tertentu.
d.      membela atau mempertahankan posisi dengan mengemukakan argumen yang kritis, logis dan rasional.
e.       memaparkan suatu informasi yang penting kepada khalayak umum.
f. membangun koalisi, kompromi, negoisasi dan consensus.
3.  Kompetensi untuk menguasai karakter kewarganegaraan.
                         a.      memberdayakan dirinya sebagai warga negara yang independen, aktif, kritis, well-informed, dan bertanggung jawab untuk berpartisipasi secara efektif dan efisien dalam berbagai aktivitas masyarakat, politik dan pemerintahan  pada semua tingkatan ( daerah dan nasional ).
                        b.      memahami bagaimana warga negara melaksanakan peranan, hak dan tanggung jawab personal untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat pada semua tingkatan ( daerah nasional ).
                         c.      Memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai budi pekerti, demokrasi, hak asasi manusia dan nasionalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
                        d.      Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan fungsi Pendidikan Kewarganegaraan adalah :
1.      mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai dan moral Pancasila secara dinamis dan terbuka.
2.      mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politik dan konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
3.      membina pemahaman dan kesadaran terhadap hubungan antara vwarga negara dengan negara, anntar warga negara, dan pendidikan pendahuluan   bela Negara agar mengetahui dan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara . ( Rahmat, 2007 ; 13:15).
F.  Demokrasi   
            Secara etimologis, demokrasi berasal dari kata Yunani “ demos” berarti rakyat dan “ kratos atau kratein “ berarti kekuasaan atau berkuasa.  Demokrasi dapat diterjemahkan “ rakyat berkuasa” atau government ruled by the people              ( pemerintahan oleh rakyat ). Dengan kata lain, demokrasi berarti pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat baik secara langsung maupun tidak langsung ( melalui perwakilan ) setelah adanya proses pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, sering disebut “ luber dan jurdil “. ( Sapriya dan Winataputra, 2005 : 5 ). 



            Demokrasi adalah sebuah bentuk kekuasaan ( kratein ) dari/oleh/untuk rakyat ( demos ). Menurut konsep demokrasi, kekuasaan menyiratkan arti politik dan pemerintahan, sedangkan rakyat beserta warga masyarakat didefinisikan sebagai warga Negara ( Sumarsono, dkk. 2005 : 19 ).
 Sedangkan menurut Abraham Lincoln dalam Rahamt ( 2007  : 71 ) mengatakan bahwa demokrasi adalah the government from the people, by the people, and for the people, yang berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.  Menurut Mayo dalam Rahmat ( 2007 : 72 ) mengemukakan lebih lanjut bahwa demokrasi juga menyangkut gaya hidup serta tatanan masyarakat. Dalam pengertian yang demikian, suatu masyarakat demokratis mempunyai nilai-nilai sebagai berikut :
a. Menyelesaikan penyelisihan dengan damai dan secara melembaga.
    Dalam alam demokrasi, perselisihan pendapat dan kepentingan  dianggap  
    sebagai halyang wajar.  Perselisihan harus diselesaikan dengan perundingan  
    dan dialog, untuk mencapai kompromi, consensus, atau mufakat.
b. Menjamin terselengaraanya perubahan dalam masyarakat secara damai atau
    tanpa gejolak.  Perubahan sosial terjadi karena beberapa faktor, antara lain
    karena kemajuan teknologi, kepadatan penduduk, dan pola perdagangan.  
    Pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijaksanaannya terhadap perubahan-
    perubahan tersebut dan mampu mengendalikannya.
c. Menyelenggarakan pergantian  kepemimpinan secara teratur.
d. Menekan kekerasan seminimal mungkin.  Golongan minoritas yang biasanya
    akan terkena paksaan akan lebih menerimanya apabila diberi kesempatan
    untuk ikut merumuskan kebikankan.
e. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman.  Untuk itu perlu
    terciptanya masyarakat yang terbuka dan kebebasan  politik dan tersedianya
    berbagai alternative dalam tindakan politik.
f. Menjamin tegaknya keadilan.
   Dalam  masyarakat demokrasi, keadilan merupakan cita-cita bersama, yang menjangkau seluruh anggota masyarakat.
G.  Pembelajaran PKn
            Pendidikan Kewarganegaraan ( Civic Education ) merupakan subjek pembelajaran yang mengemban misi untuk membentuk kepribadian bangsa, yakni sebagai upaya sadar dalam “ nation and character building “. Dalam konteks ini peranan Pendidikan Kewarganegaraan bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara sangat strategis.  Suatu negara demokratis pada akhirnya harus bersandar pada pengetahuan, keterampilan dan kebajikan  dari warga negaranya dan orang-orang yang mereka pilih untuk menduduki jabatan publik.
            Berdasarkan pemikiran di atas maka tujuan PKn pada  dasarnya adalah terwujudnya partisipasi  penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik warga negara yang taat kepada nilai-nilai  dan prinsip-prinsip dasar demokrasi kontitusional Indonesa.
             Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu bidang kajian yang mengemban  misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.  Kerangka Sistemik PKn dibangun atas dasar paradigma, sebagai berikut :
a.       PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran bertujuan  untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara  Indonesia yang berakhlak mulia, cerdas partisipatif dan bertanggung jawab.
b.      PKn secara teoritik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat demensi-demensi kognitif, afektif dan psikomotorik yang bersifat konfluen  atau saling berpenetrasi dan terintregasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral pancasila, kewarganegaraan yang demokratis, dan bela negara.
c.       PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai ( content embedding volues ) dan pengalaman belajar ( learning experiences ) dalam benduk berbagai prilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut dar ide, nilai, konsep, dan moral pancasila, kewarganegaraan yang demokratis, dan bela negara. ( Udin S. Winataputra dan Budimansyah, 2007 : 86 ).
1.  Kurikulum dan  bahan belajar Pendidikan Kewarganegaraan
      Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. 
Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,  satuan pendidikan dan peserta didik.  Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan  penyesuaian program   Kurikulum Tingkat Satuan Pendididikan   ( KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional, terdiri atas : standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaan pendidikan.  Dua dari delapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi ( SI ) dan Standar Kompetensi Lulusan        ( SKL ) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.  Untuk lebih jelasnya kurikulum  dapat dilihat pada Lampiran 1.
Adapun standar isi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meliputi  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.  Dalam Standar Isi ( BSNP, 2006 ) dalam Udin S. Winataputra dan Budimansyah ( 2007 : 103-109 ) dijelaskan pula mengenai ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan. Yaitu meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
a.       persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi : Hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan.
b.      Norma, hukum dan peraturan, meliputi : Tertib dalam kehidupan keluarga, Tata tertib disekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma dalam kehidpan berbangsa dan bernegara, Sitem hukum dan peradilan nasional, Hukum dan peradilan Internasonal.
c.       Hak asasi manusia meliputi : Hak dan kewajiban anak, Hak dan kewajiban anggota masyarakat, Intrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM.
d.      Kebutuhan warga negara meliputi : Hidup gotong royong, Harga diri sebagai warga masyarakat, Kebebasan berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai keputusan bersama, Prestasi diri, Persamaan kedudukan warga negara.
e.       Kontitusi Negara meliputi : Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama, Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan Indonesia, Hubungan dasar negara dengan konstitusi.
f.       Kekuasaan dan politik meliputi : Pemerintahan desa dan kecamatan, Pemerintahan daerah dan otonom, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan, Pers dalam masyarakat demokrasi.
g.      Pancasila meliputi : kedudukan Pancasla sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses perumusan pancasila sebagai dasar negara, Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka.
h.      Globalisasi meliputi : Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan  internasional dan organisasi internasional, dan mengevaluasi globalisasi.

Dapat disimpulkan bahwa, dengan adanya kurikulum yang telah ditetapkan pembelajaran dapat terarah sesuai dengan tujuan yang  telah dirumuskan dalam rencana pembelajaran. Adapun untuk kurikulum PKn kelas 5 dapat dilihat pada Lampiran 6.
2.      Metode Pembelajaran PKn di SD/MI
Berbagai jenis metode pembelajaran yang dapat dipilih untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran PKn kurang lebih berjumlah 28 jenis metode.  Menurut Rahmat ( 2007 : 15 – 21 ),  jenis-jenis metode tersebut salah satu di antaranya adalah :
a.      Demontrasi ( Demonstration )
Dalam kegiatan pembelajaran menggunakan demontrasi, Guru atau instruktur memperagakan atau menunjukkan cara mengerjakan suatu prosedur, cara berkerjanya suatu prinsip, cara menggunakan suatu peralatan, dan sebaganya. Misalanya demontrasi cara melaksanakan pemungutan suara dalam pemlihan umum. Cara mengadili perkara perdata.

b.      Observasi ( pengamatan )
Metode pembelajaran  yang menghendaki siswa mengamati secara teliti obyek studi atau materi  yang dipelajari dengan tujuan agar siswa mendapatkan gambaran dan pengertian yang jelas. Misalnya mengamati proses pengambilan keputusan dalam sidang DPR/ DPRD, mengamati prilaku anak jalanan, mengamati cara membuka dan menutup persidangan di pengadilan negeri dan sebagainya.
c.       Diskusi
Metode diskusi adalah meode mengajar yang menghendaki sekelompok siswa ( 3 orang atau lebih ) membahas suatu masalah ditmjau dari berbagai segi atau sudut pandang. Misalanya masalah pemilihan presden ( secara langsung oleh rakyat atau melaui MPR ), otonomi daerah ( berada d tingkat kabupaten atau provinsi ), hukuman mati ( bagaimana hubungannya dengan hak azasi manusia ) dan lan sebgainya.
d.      Debat
Metode pembelajaran di mana siswa baik secara indvidu atau kelompok dilatih, di satu pihak untuk mengemukakan suatu pendapat, proposisi, atau posisi terhadap suatu persoalan, sedangkan sekelompok siswa di pihak lain diminta untuk mengemukakan bantahan, sanggahan, atau pendapat yang berbeda disertai dengan alasan atau argumentasi. Misalanya terhadap persoalan UUD 1945. Di satu pihak kelompok siswa mengajukan pendapat yang berbeda bahwa UUD 1945 tidak boleh diganti, tetapi cukup diadakan amandemen atau perubahan dengan alasan tertentu.  Di pihak lain menyanggah, bahwa sebaiknya UUD 1945 diganti dengan UUD baru dengan alasan tertentu pula.
e.       Dramatisasi
Metode mengajar di mana sekelompok siswa ditugasi memerankan atau membawakan suatu ceritera  atau drama baik ceritera fiktif maupun ceritera sejarah.  Misalanya dramatisasi ceritera yang betemakan kejujuran. Dramatisasi ceritera Malin Kundang untk meresapi akibat buruk atau hukuman bagi anak yang durhaka kepada ibunya.
f.       Latihan ( Driil )
Kegiatan belajar dengan berlatih secara teratur, berulangkali, dan intensif dengan maksud membantu siswa menguasai keterampilan         ( skills ) tertentu. Misalanya berlatih mengucapkan lafal Sumpah Pemuda, pembacaan Pembukaan UUD 1945, berlatih bagi petugas pengibar bendera merah putih, berlatih menjadi panitia penyelengara pemilihan pengurus OSIS, dan lain sebgainya.  Metode latihan cocok untuk mempelajari materi pembelajaran yang berisikan keterampilan fisik atau gerakan anggota tubuh.



g.      Percobaan ( eksperimen )
Kegiatan belajar yang menghendaki siswa memberikan perlakuan        ( treatment ) yang berbeda-beda terhadap suatu obyek atau subyek untuk diamati ada tidaknya pengaruh atau tidaknya perbedaan pengaruh perlakuan tadi.  Dalam PKn misalanya eksperimen untuk mengetahui pengaruh media massa terhadap sikap politik masyarakat.
h.      Pengalaman Lapangan ( Field Experience )
Kegiatan belajar secara langsung, praktek di lapangan kerja yang sesungguhnya.  Siswa yang ingin mempelajari pelaksanaan dalam pemilihan kepala desa terjun langsung kemasyarakat, mulai membantu mencatat jumlah pemilih, mengirimkan undangan , membantu panitia menghitung suara dan lain sebagainya.
i.        Permainan ( gaming )
Kegiatan belajar yang menghendaki siswa berkompetisi atau berlomba baik scara fisik maupun mental sesuai dengan  aturan permainan yang telah ditetapkan.  Dalam metode permainan ini harus ada unsur menang dan kalah.  Misalnya tebak tepat menghafalkan nama-nama provinsi, lambang negara, nama-nama pahlawan dan lain sebagainya.
j.        Studi Independen ( Independent Study )
Metode pembelajaran di mana siswa melakukan kegiatanya bukan dalam bentuk pembelajaran di kelas secara klasikal, melainkan dengan jalan melakukan berbagai kegatan seperti konsultasi dengan guru, instruktur, nara sumber, dalam rangka menyelesaiakan tugas belajarnya.  Misalanya tugas mandiri dalam membuat makalah tentang kehidupan demokrasi pada masayarakat pedesaan.
k.      Pengalaman Laboratorium ( Laboratory Experience )
Kegiatan belajar yang dilaksanakan dalam suatu laboratorium direncanakan untuk seseorang atau suatu kelompok siswa mempelajari suatu bidang studi tertentu termasuk mempraktekkan teori-teori dengan melalui pengamatan, percobaan, riset, mempelajari  bahasa asing, termasuk di dalamnya belajar dengan jalan demontrasi, drill (latihan) dan praktikum.  Misalnya belajar cara memimpin sidang DPR/DPRD di Lab PPKn.
l.        Kuliah atau ceramah ( Lecturing )
Suatu metode pembelajaran di mana guru atau instruktur menyajikan materi pelajaran ( presentasi ) secara lisan mengenai suatu fakta, atau dalil-dalil atau prinsip. Siswa mengikuti pelajaran dengan mendengarkan, dan mencatat.  Kegiatan belajar ceramah biasa diikuti dengan tanya jawab aau diskusi sebagai tambahan variasi kegiatan       ( metode cerama bervariasi ) Misalnya ceramah tentang hasil-hasil Sidang Umum MPR, Perubahan UUD 1945, Otonomi Daerah, dan sebagainya.




m.    Mendengarkan ( listening )
Kegiatan belajar di mana dengan menggnakan alat bantu dengar siswa belajar dengan cara mendengarkan. Misalnya dalam belajar menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan, kepada siswa diputarkan kaset tape untuk didengarkan.
n.      Manipulasi dan Meraba
Kegiatan belajar di mana siswa menggunakan gerakan berbagai anggota badan dan saraf peraba untuk mengembangkan keterampilan membentuk dan melatih kepekaan syaraf perabanya.  Misalnya menggunakan potongan-potongan benda untuk membuat lambang Garuda Pancasila, miniatur gedung DPR, Istana Negara dan sebagainya.
o.      Model dan tiruan ( Modelling and Imitation )
Suatu kegiatan belajar  di mana kepada siswa ditunjukkan suatu model yang baik untuk dijadikan contoh atau teladan untuk ditiru prilakunya.  Metode  model atau tiruan cocok untuk mengajarkan sikap atau prilaku yang baik.  Model yang dijadikan contoh, teladan atau panutan  dapat berupa manusia yang nyata-nyata ada dalam kehidupan sehari-hari ( misalnya para Nabi atau Rosul, tokoh pahlawan perjuangan kemerdekaan, tokoh pengusaha yang sukses lagi dermawan, pemuka masyarakat yang baik budi ), bisa juga tokoh-tokoh dalam ceritera atau kepahlawanan, ceritera rakyat, karya sastera berupa novel, cerita pendek, dan sebagainya ).  Syarat pokok untuk ditampilkan  sebagai model yang digarapkan ditiru perilakunya yang baik-baik adalah model tersebut hendaknya dapat menjadi idola dan dikagumi oleh siswa.
p.      Diskusi Panel ( Panel discussion )
Metode pembelajaran di mana materi pelajaran dsamapaikan oleh beberapa orang yang memiliki keahlian di bidang masing-masing dalam suatu forum.  Seusai penyajian materi, siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada para penyaji materi.  Misalanya topik “ Tertib Lalulintas”. Kecelakaan Lalulintas, pihak penjual kendaraan bermotor, ahli hukum, pemerintah kota, ahli kesehatan dan sebagainya.
q.      Praktikum
Kegiatan belajar di mana siswa diberi kesempatan untuk memperaktekkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang telah diperoleh dikelas. Misalnya setelah mendapatkan teori tentang cara menafsirkan peraturan perundang-undangan, siswa ditugasi praktek menafsirkan peraturan yang diberikan oleh guru.
r.       Pemecahan masalah ( problem solving )
Metode pembelajaran di mana sswa  diminta untuk berlatih memecahkan masalah secara sistematis.  Langkah-langkah pemecahan masalah secara sistematis meliputi : Identifikasi masalah, menentukan alternatif pemecahan masalah, memilih alternatif pemecahan masalah, melaksanakan alternatif yang telah dipilih, mengevaluasi pelaksanaan pmecahan masalah, dan merevisi atau memperbaiki.  Contoh permasalahan yang layak disajikan untuk melatih siswa memiliki keterampilan memecahkan masalah, misalnya : Adakah pengaruh tingkat pendidikan terhadap keikutsertaan dalam kegiatan politik ? Adakah hubungan antara pemahaman terhadap peraturan lalulintas dengan  perilaku tertib berlalulintas dan sebagainya.
s.       Pengajaran terprogram ( Programmed Instruction )
Metode pembelajaran di mana materi pembelajaran disajikan sdikit demi sedikit menurut urutan yang sistimatis.  Contoh : untuk mengajarkan topik Majelis Purmusyawaratan Rakyat, guru memberikan stimulus berupa tulisan pada kartu berwarna” Kepanjangan dari singkatan MPR adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat “.  Anak-anak disuruh mengamati, mencamkan, kalau perlu mencatat atau mengambar.  Kemudan guru memancing respon siswa dengan mengajukan pertanyaan “ Anak-anak, apakah singkatan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat?”  jika murid menjawab MPR, maka diberi fedback “ betul “. Jika salah dibetulkan
t.        Tutorial  ( tutoring )
Teknik megajar di mana pelajaran diberikan kepada siswa secara individu dalam bentuk bantuan belajar.  Misalanya tutorial dalam mempelajari Piagam Hak-hak Azasi Manusia yang aslinya dalam bahasa Inggris.
u.      Pengajaran melalui TV ( Intructional Television )
Teknik mengajar di mana materi pembelajaran disajikan dengan menggunakan siaran TV, siswa menerima pelajaran  dengan jalan menonton siaran TV Pendidkan.  Contoh penyajian pelajaran PPKn pada SLTP terbuka melalui TV siaran sekolah.

            Dapat disimpulkan bahwa, dalam pembelajaran PKn banyak ragam metode yang dapat digunakan guru,  salah satunya seperti metode sosiodrama.  Dengan adanya berbagai metode yang diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar guru akan lebih mudah untuk memberikan bahan ajar kepada siswa sehingga proses pembelajaran tersebut dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah dirancang
3.      Media Pembelajaran PKn
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses kegiatan pada diri siswa.  Salah satu kemapuan yang dituntut dari seorang guru adalah ketepatan memilih media pembelajaran.
Media yang paling baik adalah media yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran/karakter bahan ajar, metode yang akan digunakan, dan keadaan siswa, serta kemampuan guru/sekolah.  Untuk itu, sebelum memilih media pembelajaran sebaiknya pahami terlebih dahulu beberapa hal yang perlu diperhatikan kerkenaan dengan pemilihan media seperti dikemukaka Kosasih Djahiri ( 1979 : 76 ) dalam  Rahmat ( 2007 : 23 ) sebagai berikut :
a.       Tujuan intruksional yang ingin dicapai
b.      Tingkat usia dan kematangan
c.       Kemapuan baca siswa
d.      Tingkat kesulitan dan jenis konsep pelajaran tersebut
e.       Keadaan / latar belakang pengetahuan atau pengalaman siswa.

Selanjutnya S. Winataputra ( 1989 : 163 ) dalam Rahmat ( 2007 : 23 )

menegaskan:

Bahwa yang harus diperhatikan dalam menetapkan media yang akan dipakai dalam PPKn ( PMP ) adalah bahwa media itu harus dapat memberikan rangsangan  kognitif atau cognitive smulation sehingga media tersebut dapat menimbulkan cognitive dissonance.  Dengan terciptanya  kondisi tersebut maka para siswa akan ditantang untuk bisa meningkatkan taraf moralitasnya.

Dapat disimpulkan bahwa, guru dalam memilih media pembelajaran harus di sesuaikan dengan tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan, selain itu guru harus dapat menentukan media pembelajaran yang dapat memberikan stimulus ( rangsangan ) terhadap tiga ranah pembelajaran yang salah satunya yaitu ranah kognitif.


4.      Sumber belajar PKn
Bertitik tolak dari arti Civic yang merupakan cabang ilmu politik, maka unsur pertama yang menjadi fokus pelajaran Civik ( kewarganegaraan ) pertama-tama adalah demokrasi politinya ( Gross and Zeleny, 1958 : 214 ; Udin S. Winataputra dan Budimansyah, 2007 : 185 ) seperti : (a) teori-teori tentang demokrasi politik, (b) konstitusi negara, ( c ) sistem politik, ( d ) partai politik, (e) emilihan umum, (f ) lembaga-lembaga pengambil keputusan, (g) Presiden, lembaga yudikatif dan legislatif, (h) out put dari sistem demokrasi politik, (i)kemakmuran umum dan pertahanan Negara, dan (j ) perubahan sosial.
Berdasarkan perkembangan mutahir, dimana tujuan PKn  adalah partisipasi yang bermutu dan bertanggung jawab dari warga negara dalam kehidupan politik dan masyarakat baik pada tingkat lokal maupun nasional, maka partisipasi semacam itu memerlukan penguasaan sejumlah kompetensi kewarganegaraan.  Dari sejumlah kompetensi yang diperlukan, yang penting adalah ( 1) penguasaan terhadap pengetahuan dan pemahaman tertentu; (2) pengembangan kemapuan intelektual dan partisipatoris; (3) pengembangan karakter dan sikap mental tertentu; dan (4) komitmen yang benar terhadap nilai dan prinsip dasar demokrasi konstitusional.  Berdasarkan kompetensi yang perlu dikembangkan, terdapat tiga komponnen utama yang perlu di pelajari dalam PKn yaitu Civic Knowledge, Civic Skills, dan Civic Dispositions ( Branson, 1998 : 5 ; Udin S. Winataputra dan Budimansyah, 2007 : 186).


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, bahan sumber pembelajaran PKn dapat diambil dari berbagai permasalahan sosial yang sedang terjadi dalam masyarakat terutama mengenai kehidupan demokrasi, baik  antara individu, masyarakat maupun dengan pengambil kebijakan pemerintah itu sendiri.
5.      Penilaian dalam PKn.
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistimatis dan bekesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan pendidikan untuk menentukan tingkat keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah ditentukan ( Rahmat, 2007 : 57).
Menurut pendapat Kosasih Djahiri ( 1995: 53 ), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran PKn, yakni :
a.       Evaluasi tidak hanya berfungsi untuk pengukuran tingkat keberhasilan belajar siswa melainkan juga tingkat keberhasilan/kegagalan mengajar, program serta redukasi dan mumentum membaca kualifikasi dan atau jadi dirinya ( siswa ), keluarga dan lingkungan kehidupanya.
b.      Evaluasi jangan hanya diartikan THB/TPB atau ulangan yang cenderung bersifat administratif formal yakni mencari dan menentukan nilai/angka ( marking ) melainkan momentum pengakuan diri  dan atau penilaian diri ( self evaluation ) untuk redukasi atau remedial.

Dapat disimpulkan, penilaian merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dalam menyampaikan suatu bahan ajar sehingga dapat diterima oleh siswa baik dari segi afektif, kognitif maupun psikomotor.




H.    Demokrasi dalam Pendidikan Kewarganegaraan
Demokrasi merupakan suatu konsep yang kerap dikedepankan dan dijadkan unggulan ketika wacana untuk memperkokoh kehidupan bernegara dan bermasyarakat menjadi kajian, terlebih pada saat mecari upaya strategis untuk memelihara integrasi negara.
Ketidak adilan kerap muncul sebagai penyebab utama keresahan yang mengancam disintegrasi bangsa senantiasa muncul berkait erat dengan melemahnya sendi-sendi demokrasi.   Krisis ekonomi yang telah dialami bangsa Indonesia, memunculkan krisis kehidupan bidang lainya termasuk bidang politik, hukum dan pendidikan.
Hal-hal tadi disebabkan  oleh prakteka sistem politik yang mengabaikan nilai-nilai demokrasi sehingga memungkinkan menguatnya sistem politik totaliter yang bertentang dengan semangat UUD 1945.
Salah satu solusi strategi untuk menanggulangi permasalah tersebut di atas, secara konseptual adalah dengan memperkuat “demokratisasi” dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan ( Prof. Dr. Suwarma Al Muchtar, 2001:18 ).  Untuk mendukung hal tersebut perlu adanya suatu pendidikan yang mampu mengembangkan nilai-nilai demokrasi dan kesadaran berdemokrasi, yakni melalui Pendidikan Kewarganegaraan.
I.  Prilaku Demokrasi dalam Pendidikan Kewarganegaraan
Prilaku adalah respons atau reaksi yang berada  dalam batas kewajaran dan kenormalan terhadap stimulus lingkungan sosial ( Azwar, 1995 :10).  Sedangkan menurut Kurt Lewin ( 1951 ) dalam Azwar ( 1995 : 10 – 11 ) mengemukakan prilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. 
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan  dalam menentukan perilaku.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa, prilaku dipengaruhi oleh stimulus ( rangsangan ) dari lingkungan sosial berserta  faktor-faktornya yang dapat menimbulkan atau membentuk suatu tindakan atas respons yang diterima dari suatu perubahan dilingkungannya.
Hidup secara demokratis ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan                     ( prilaku ) yang sejalan dengan  unsur-unsur rule of law atau syarat-syarat demokrasi.  Hidup secara demokrasi adalah menjadikan demokrasi dengan segala cirinya itu sebagai suatu kenyataan hidup dalam bidang apapun juga.
Dua prinsip atau azas utama demokrasi yaitu pertama adanya pengakuan atas partisipasi rakyat dalam pemerintahan, dan kedua adanya pengakuan terhadap hak – hak asasi manusia.  Artinya, suatu negara dapat dikatakan negara demokrasi jika adanya pengakuan dan jaminan terhadap kedua prinsip / azas tersebut ( Rahmat, 2007 : 73 ).
Sehubungan dengan itu, Alamudi dalam Rahmat ( 2007 : 73 ) mengemukakan soko guru demokrasi sebagai berikut :
1.      Kedaulatan rakyat
2.      Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah
3.      Kekuasaan mayoritas
4.      Hak-hak minoritas
5.      Jamianan HAM
6.      Pemilihan yang bebas dan jujur
7.      Persamaan di depan hukum
8.      Proses hukum yang wajar
9.      Pembatasan pemerintah secara kontitusional
10.  Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik
11.  Nilai-nilai toleransi, kerjasama, dan mufakat

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, prilaku demokrasi setiap warga negara dapat ditunjukan dengan sikap atau perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai demokrasi yang berkembang dimasyarakat, adanya suatu pengakuan terhadap partisipasi masyarakat terhadap berbagai bidang kehidupan yang ssesuai dengan soko guru demokrasi.








     
     





BAB  III
METODE PENELITIAN

A.  Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun pengertian metode deskriptif menurut :
Nawawi ( 1983 ; 63 ) adalah
“ Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan mengambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian ( seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain ) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya”

Sedangkan menurut Nazir ( 1988 ; 63 ), metode penelitian deskriptif dapat diartikan juga sebagai,
“ Penelitian deskriptif  mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruhnya darisuatu fenomena “

Strauss and Corbi ( 1997 ) dalam  Rosady Ruslan ( 2006 : 212 ), bahwa :
 “Qualitative Research ( riset kualitatif ) merupakan  jenis benelitian  yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau cara kuantifikasi lainnya”.

            Berdasarkan pengertian di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari dan untuk mendapatkan gambaran tentang profil pengembangan metode sosiodrama dalam menumbuhkan prilaku  demokrasi siswa di SD Negeri 5 Munjul Jaya  Purwakarta.



B.  Sumber Data Penelitian
            Sumber data penelitian ini meliputi sumber data primer dan sekunder.  Sumber data primer adalah merupakan sumber data yang paling utama yang diperoleh dari subyek penelitian sendiri, yaitu guru Pkn dan siswa kelas 5 SDN 5 Munjul Jaya Purwakarta.  
            Sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak diperoleh dari respoden sendiri tetapi diperoleh dari orang-orang di luar responden.  Data sekunder dipergunakan untuk memperkuat dan menguji kebenaran data yang diperoleh dari responden. Adapun data sekunder dapat diperoleh melaui kajian pustaka, referensi buku dan catatan-catan yang berkaitan bidang kajian dalam penelitian yang penulis laksanakan.
C.  Teknik Pengumpulan Data
Agar data terkumpul secara tepat dan sesuai dengan harapan, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut :
      1.  Observasi
            Teknik ini adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan melaui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada obyek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi. ( Nawawi, 1983 : 94 ).  Dalam penelitian ini observasi langsung dilaksanakan pada siswa kelas 5 SDN 5 Munjul Jaya   Purwakarta.


2.   Wawancara
            Teknik ini adalah cara mengumpulkan data yang mengharuskan  seseorang peneliti mengadakan  kontak langsung secara lisan atau tatap muka ( face to face ) dengan sumber data, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun  dalam situasi yang sengaja dibuat untuk keperluan tersebut.( Nawawi, 1983 : 95 ).
Wawancara dalam kegiatan penelitian ini dilakukan secara informal                ( wawancara tidak berstruktur ), berlangsung dalam situasi alamiah dengan pertanyaan – pertanyaan yang diajukan sangat bergantung secara spontanitas pewawancara.  Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh  data yang dibutuhkan sesuai dengan pokus penelitian, tanpa menggangu  dan menyinggung perasaan para sumber data. Wawancara dilaksanakan terhadap guru PKn dan siswa kelas 5  SDN 5 Tegal Munjul   Purwakarta.
3. Studi  Dekumentasi
Menurut Suharsimi ( 1998 : 202 ) mengemukakan metode dekumentasi yaitu : mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, natulen rapat, legger, agenda dan sebagainya”. Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengungkap data yang bersifat administratif dan data-data kegiatan terdokumentasi.
            Sumber informasi berupa dokumen dan catatan yang penulis peroleh dari guru PKn di SD  Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta.



E.     Validasi Data
Perolehan data yang akurat dan absah, terutama yang diperoleh melalui observasi, wawancara maupun dokumentasi, teknik yang digunakan adalah memeriksa derajat kepercayaan atau kredibilitasnya ( Asmayawati, 2008 : 62 ).  Kredibilitas data dapat diperiksa melaui beberapa cara, adalah sebagai berikut :
  1. Meperpanjang waktu keikutsertaan
Usaha peneliti dalam memperpanjang waktu keikutsertaan dengan para sumber data adalah dengan cara meningkatkan frekuensi pertemuan dan menggunakan waktu seefisien mungkin, seperti mencari waktu yang tepat kapan guru PKn melakukan proses kegiatan belajar mengajar.
  1. Melakukan pengamatan secara seksama
Pengamatan secara seksama dilakukan secara menerus untuk memperoleh gambaran yang nyata tentang upaya yang dilakukan guru PKn dalam  rangka pengembangan metode pembelajaran, sehingga dapat menumbuhkan prilaku siswa yang demokratis dalam menyikapi pemasalahan – permasalah sosial  dalam lingkungannya.
  1. Triangulasi
Triangulasi merupakan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan membandingkan data yang diperoleh dari suatu sumber ke  sumber lainnya pada saat yang berbeda atau membandingkan data yang diperoleh dari satu sumber dengan pendekatan yang berbeda untuk mengecek atau membandingkan data penelitian yang telah dikumpulkan ( Asmayawati, 2008 : 63 ).  Triangulasi dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi yang peneliti laksanakan  dengan hasil wawan cara sumber data yang berbeda.
  1. Mengupayakan referensi yang cukup
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan keabsahan informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan dukungan referensi yang cukup baik seperti buku-buku referensi yang faktual dari berbagai sumber yang berkenaan dengan kajian penelitian yang penulis laksanakan.
  1. Melakukan memberchek
Memberchek yaitu dengan  cara meminta responden sebagai mitra peneliti untuk mengecek kebenaran laporan  yang sudah disusun.  Selanjutnya mengadakan perbaikan  sesuai dengan saran  dan arahan dari responden yang dilibatkan dalam penelitian.
E.  Analisis Data
            Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian. Menurut S. Nasution (1988 : 129) dalam  Asmayawati   ( 2008 : 64 ) mengemukakan bahwa :
Tidak ada suatu cara tertentu yang dapat dijadikan pedoman bagi semua penelitian, salah satu cara yang dapat diajurkan  mengikuti langkah-langkah berkut yakni : 1) reduksi data, 2) display data, 3) pengambilan kesimpulan  dan ferivikasi.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka analsis data dalam peneltian ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.                                                                                                                  Reduksi  Data
Reduksi data merupakan langkah awal dalam menganalisis data, kegiatan yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman terhadap data yang telah terkumpul.   Kumpulan data  hasil kerja lapangan direduksi dengan cara merangkum, mengklarifikasi sesuai dengan  fokus dan aspek-aspek permasalah yang diteliti.  Dalam penelitian ini aspek – aspek yang direduksi adalah pelaksanan pola pembelajaran dalam rangka pengembangan suatu metode pembelajaran PKn yang dilaksanakan disekolah dalam : 1 ) menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, 2 ) menetapkan tujuan pembelajaran,  3 ) memotivasi  untuk lebih giat lagi belajar dirumah maupun dilingkungan masyarakat, 4) mengemas bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, 5 ) mencurahkan perhatian  dalam membentuk prilaku siswa dalam proses pembelajaran, 6) penggunaan dan pengembangan metode pendidikan yang mendukung proses pembelajan, 7)  mengidentifikasi faktor-faktor pendukung  dan penghambat dalam penggunaan serta pengembangan metode pendidikan, mengidentifikasi sarana dan prasarana yang tersedia dan harus disediakan.
b.                                                                                                                  Display Data
Display data, yaitu menyajikan  data secara jelas dan singkat                             ( Asmayawati, 2008 : 65 ).   Untuk memudahkan memahami gambaran terhadap aspek-aspek yang diteliti, baik secara menyeluruh maupun bagian demi bagian.  Penyajian   data dalam bentuk deskripsi dan interpretasi sesuai dengan data yang diperoleh dilapangan.
c.                                                                                                                   Penarikan Kesimpulan dan Perivikasi
Menarik atau mengambil kesimpulan merupakan tujuan utama analisis data. Kegatan ini dimaksudkan  untuk memberikan  makna terhadap data yang telah dianalisis. Kesimpulan disusun dalam bentuk pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada tujuan penelitian.
Untuk kesimpulan sementara  yang telah dirumuskan masih terus diverifikasi berulang-ulang dan bertahap sehingga pada bagian akhir dapat menghasilkan kesimpulan yang absah.
F.   Lokasi dan Agenda Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian yang akan dilaksanakan penulis adalah  di SDN 5 Munjul Jaya  Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, dengan alasan meminimalkan penggunaan dana penelitian serta peneliti telah mengetahui karakteristik, baik siswa, guru, maupun kondisi pembelajaran di sekolah tersebut sebagai modal dasar untuk memperoleh data yang tingkat akurasinya tinggi, juga penulis berkeinginan untuk memberi kontribusi terhadap sekolah tersebut melalui hasil penelitian ini.
2.  Agenda Penelitian
Akumulasi target penyusunan skripsi ini adalah  lima bulan, mulai bulan Juni 2008 sampai dengan bulan Oktober 2008, secara lengkap agenda kegiatan yang dimaksud dapat dilihat pada Lampiran 9.





BAB  IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.  Temuan Penelitian
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dan observasi tentang “ Profil pengembangan  metode sosiodrama dalam menumbuhkan  prilaku demokrasi siswa di SD Negeri 5 Munjul Jaya  Purwakarta”. Wawancara dilakukan kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan.  Hasil wawancara telah dianalisis dengan triangulasi sumber dengan mengkroscek hasil wawancara dengan satu guru PKn lain.  Dari wawancara diperoleh beberapa temuan penelitian sebgai berikut :
1. Bagaimana profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa pelajaran PKn

      a. Guru Pendidikan Kewarganegaraan 1 :
       Dari hasil wawancara dengan guru PKn 1 bahwa, dalam pengembangan  metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa pelajaran PKn terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatkan dan dilaksanakan, yaitu : Pertama, yang perlu diperhatkan adalah melihat terlebih dahulu kurikulum pembelajaran yang masih digunakan, dalam hal ini kurikulum di tingkat Sekolah Dasar ( SD ) khususnya pelajaran PKn, kemudian menentukan indikator yang terdapat dalam kurikulum tersebut yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Kedua, menentukan alat dan bahan ajar.  Dalam melaksanakan  proses KBM alat dan bahan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran yang dapat mendukung metode sosiodrama.  Alat dan  bahan dapat berupa poster, koran, majalah, tanyangan TV, dan reperensi-reperensi lainya dengan tujuan  agar anak diberi stimulus untuk mengekspresikan dalam mengeluarkan  esmosinya yang kemudian menjadi bahan untuk diungkapkan.  Guru dalam pelaksanaan metode sosiodrama dapat menseting stuasi dan kondisi sesuai dengankebutuhan  dalam proses pembelajaran sepeti guru mengatur tempat duduk siwa posisinya melingkar (konteks sidang atau sidang konferensi ). Di akhir proses perlu di adakanya penilaian terhadap kinerja siswa maupun guru sebagai faslitator.  Penilaian yang dilakukan dalam metode sosiodrama meliputi penilaian proses, bagamana anak dalam ferpormens dalam mengungkapkan berbagai ide-ide atau gagasan/pendapat yang ingin disampaikan. Selain itu, penilaian dilakukan terhadap kepercayaan diri siwa dalam mengungkapkan suatu pendapat terhadap permasalahan yang menjadi bahan ajar yang akan dibahas.  Setiap metode pembelajaran tentunya memiliki kelemahan masing-masing begitupun dengan metode sosiodrama memiliki beberapa kelemahan salah satunya : anak yang sulit komunikasi atau kurang percaya diri dalam mengungkapkan  ide-idenya.  Hal tersebut dapat menghambat pross pembelajaran metode sosiodrama sehingga hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.  Untuk menghindari hal tersebut, guru dapat mengatur posisi tempat duduk siswa yang pasif dibaur dengan siswa aktif berkomunikasi sehingga dapat membangkitkan motvasi atau stimulus pada anak untuk belajar dan mampu mengeluarkan pendapat maupun ide-ide yang dimilikinya.  Selain kelemahan,  dalam metode sosiodrama juga terdapat keunggulan meliputi tiga ranah pembelajaran, yaitu afektif, kognitif dan psikomotor, seperti siswa menjadi cepat tanggap artiya siswa memberikan reaksi berupa pendapat dan mampu memberikan argumen serta mempertahankanya baik keadaan salah maupun benar.  Cara berbicara untuk mengeluarkan pendapat tanpa mengalami kesalahan.  Tidak jarang siswa yang pandai berbicara namun susah untuk mengeluarkan ide-ide dan sebaliknya.  Ketiga ranah tersebut satu dengan yang lainnya saling berkaitan erat sehingga membentuk pola prilaku anak  untuk selalu merespon terhadap berbagai perubahan dalam lingkungannya.

b. Guru Pendidikan Kewarganegaraan 2

      Metode sosiodrama merupakan salah satu metode alternatif yang dapat digunakan  dalam pembelajaran PKn, khususnya pembelajaran demokrasi.  Sebelum proses kegiatan pembelajaran, sebaiknya memperhatikan terlebih dahulu kurikulum pembelajaran.  Dengan adanya kurikulum kita dapat mengetahu batasan-batasan bahan ajar yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.  Guru Pkn harus mampu menentukan indikator mana saja  yang sesuai dengan metode sosiodrama.  Kemudian yang harus mendapat perhatian, guru harus mampu membuat suatu rancangan  pembelajaran yang tepat khususnya metode sosiodrama.  Rancangan pembelajaran tersebut terdapat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang memuat komponen-komponen pembelajaran seperti tujuan, metode, alat dan   bahan serta tahap evaluasi.  Kompenen-komponen tersebut  dapat dikembangkan  sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, dan dapat menciptakan  suasana pembelajaran PKn yang menyenangkan dikelas.  Setiap metode pembelajaran memilki keungulan dan kelemahan yang sering ditemukan dilapangan seperti metode sosiodrama, keunggulan tersebut  dapat dilihat dari segi afektif, kognitif dan psikomotor.  Afektif, siswa diharapkan memiliki intelegensi       baik terhadap pemahaman pelajaran PKn terutama dalam masalah demokrasi. Kognitif, siswa diharapkan memiliki nilai-nilai moral, rasa dan lain sebagainya sehingga selalu respon terhadap perubahan-perubahan.  Psikomotor, siswa memiliki keterampilan cara bagaimana mengemukakan pendapat, ide-ide atau sanggahan-sanggah. Kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dalam pembelajaran khususnya pembelajaran Pndidikan Kewarganegaraan.
           
            Bedasarkan hasil wawancara di atas dengan ke dua orang guru PKn, diperoleh temuan penelitian bahwa dalam pengembangan metode sosiodrama  pelajaran PKn perlu dibuat suatu langkah-langkah dalam bentuk perencanaan pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) yang mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan dan masih berlaku. Selain itu, alat dan bahan ajar, metode dan penilaian dalam pembelajaran PKn dengan metode sosiodrama disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.  Dengan adanya metode sosiodrama diharapkan pemahaman siswa terhadap Pendidikan Kewarganegaraan lebih baik sehingga memiliki keunggulan dari segi afektif, kognitif dan psikomotor sebagai warga  negara yang baik.
2. Bagaimana prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama.

  a.  Guru Pendidikan Kewarganegaraan 1
 
 Dalam setiap proses pembelajaran, selalu diharapkan adanya suatu  perubahan yang melekat pada diri siswa setelah pembelajaran selesai.   Perubahan tersebut meliputi aspek afektif, kognitif dan psikomotor, seperti dalam pembelajaran PKn metode sosiodrama siswa mulai kritis terhadap masalah yang dikemukakan oleh temannya maupun guru dikelas.  Kekritisan siswa terhadap sesuatu lengkap dengan alasanya.  Contoh dalam kegiatan pembelajaran sosiodrama dengan  mengambil masalah kasus Ryan, siswa mulai berreaksi dan terbawa emosinya untuk menyampaikan pendapat dan kritikan terhadap masalah tersebut dengan berbagai alasan yang dikemukakan, terdapatnya siswa yang pro dan kontra dalam  menentukan keputusan bentuk hukuman yang pantas diberikan pada pelaku dan lain sebagainya.  Keadaan tersebut membuat stuasi dan kondisi pembelajaran dikelas  menjadi semakin hidup yang merupakan suatu ciri hidupnya suatu demokrasi.

            b.  Guru Pendidikan Kewarganegaran 2
           
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk  berfikir secara kritis, aktif dalam berpartisipasi dalam  segala  bidang kehidupan dan selalu bertanggung jawab serta cerdas dalam kergiatan  bermasyarakat. Berkembang secara positif dan demokratis.  Untuk  mewujudkan tesebut hendaknya siswa dibina dan diarahkan sejak dini seperti dalam pembelajaran demokrasi guru dapat memberikan skanario mensosiodramkan bagaimana proses pemungutan suara dalam rangka pemilihan kepala daerah, pemilihan ketua kelas, proses persidangan dan lain sebagainya. Contoh-contoh seperti hal ini lah yang nantinya membentuk suatu prilaku demokrasi yang tertanam dalam diri siswa seperti mau menerima pendapat orang lain dan mau melaksanakan keputusaxn besama. Adanya pro dan kontra merupakan suatu kewajaran karena itulah proses demokrasi.

            Berasarkan hasil wawancara di atas diperoleh temuan penelitian bahwa,  prilaku demokrasi siswa dalam  menentukan keputusan besama   melalui penerapan   metode sosiodrama siswa  menjadi lebih kritis, berani  mengeluarkan ide-ide/pendapat terhadap masalah – masalah sosial yang sedang terjadi dengan berbagai alasan dan argumentasi. Hal tersebut tentunya guru harus tetap memberikan  stimulus-stimulus terhadap siswa untuk selalu berprilaku demokrasi, dengan pembiasaan siswa tersebut prilaku demokrasi akan tertanam dalam diri siswa.
3. Bagaimana motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrma yang diterapkan oleh guru
    
     a. Guru Pendidikan Kewarganegaraan 1

Motivasi belajar siswa dengan menggunakan  metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru, siswa semakin kompak dan  komunikatif antara siswa yang satu dengan yang lainnya saling mendukung sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam pembelajaranan, ada kemauan untuk  mengluarkan pendapat kepada teman-temannya sendiri.
b. Guru Pendidikan Kewarganegaraan 2

Penggunaan metode yang bervariatif dalam proses kegiatan belajar di kelas merupakan suatu keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap guru.  Dengan adanya metode yang bervariatif seperti salah satunya metode sosiodrama  dapat menghilangkan kejenuhan siswa dalam proses pembelajaran, dengan metode ini siswa dapat dilatih untuk belajar berakting seperti aktris atau aktor yang sedang memerankan suatu tokoh cerita sehingga dengan kondisi tersebut akan menciptakan  suasana pembelajaran yang menyenangkan dan secara tidak langsung akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih baik
             
            Berdasarkan hasil wawancara dengan dua orang guru PKn di atas, diperoleh temuan  penelitian  bahwa motivasi siswa akan tumbuh disebabkan oleh adanya metode yang bervariatif dalam pembelajaran seperti pembelajaran PKn dengan menggunakan metode sosiodrama, siswa dapat memerankan tokoh lakon yang sesuai dengan keinginannya, selain itu sambil belajar siswa juga menggali kemampuan/potensi yang ada pada dirinya seperti kemampuan berekting atau  bersandiwara.
B.  Pembahasan Terhadap Temuan Penelitian
1.  Profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa
     pelajaran PKn

Metode sosiodrama merupakan salah satu metode dari beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan  dalam rangka terciptanya suatu proses pembelajaran yang efektif.  Setiap guru harus dapat memahami terlebih dahulu komponen-komponen pembelajaran termasuk dalam penentuan suatu metode, karena komponen-komponen pembelajarn tersebut merupakan landasan bagi guru dalam melaksanakankan tugasnya sebagai pembelajar.
 Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) merupakan salah satu bidang studi yang tidak dapat hanya memerlukan hapalan saja, tetapi ditekankan pada pemahamannya.  Umumnya siswa merasa kesulitan dalam mengaplikasikan  proses belajar mengajar. 
Sasaran akhir dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi ditekankan pada proses dan hasil belajar siswa.  Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu menemukan metode yang dapat mendukung proses pembelajaran sehingga anak tidak merasa kesulitan dalam memahami dan mengaplikasikan materi yang telah disampaikan guru dlingkungannya.   Guru  selain dapat memanfaatkan metode, juga harus merancang program pengembangan metode pembelajaran atas dasar kebutuhan umum maupun kebutuhan perorangan peserta didiknya.
Berdasarkan hal di atas dan hasil yang diperoleh dari lapangan bahwa, metode sosiodrama merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan oleh guru dalam menunjang  pembelajaran.  Sosiodrama digunakan  untuk memberikan pemahaman dan penghayatan siswa terhadap Pendidikan Kewarganegaraan lebih baik sehinga memiliki keunggulan dari segi afektif, kognitif dan psikomotor sebagai warga  negara yang baik, seperti yang dilaksanakan di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta kelas 5 mata pelajaran PKn khusunya dalam  menumbuhkan sikap demokrasi siswa.
Membina calon warga negara yang memiliki prilaku yang kritis, aktif serta bertanggung jawab merupakan tanggung jawab bersama, kita sebagai guru PKn berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan dari sejak dini yakni di bangku sekolah dasar. Oleh karena itu, perlu adanya suatu langkah pengembangan metode khususnya sosiodrama.  Dalam pelaksanaan pengembangan metode sosiodrama  proses pembelajaran yang dilakukan guru PKn, meliputi : Perencanaan, Pelaksanaan, Pengontrolan dan Evaluasi, serta yang terakhir tindak lanjut.
Perencanaan dalam sebuah proses pembelajaran sangan diperlukan sekali sebagai bahan untuk mencapai tujuan, begitupun dalam pengembangan metode sosiodrama pelajaran PKn perencanaan dibuat sesuai dengan kurikulum pembelajaran sekolah dasar yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ), seperti menetapkan  topik atau masalah serta tujuan  yang hendak dicapai ( Indikator ).
 Pelaksanaan merupakan penjabaran dari perencanaan yang dibuat, dalam kegiatan pelaksanaan siswa sudah memahami peran masing-masing yang dilakonkan dengan gaya dan ekspresi yang berbeda-beda sehingga siswa dapat menghayati permasalahan yang dihadapi dan mampu untuk mencari solusi dari permasalahan yang sedang dikaji dalam materi pembelajaran.
Pengontrolan, merupakan pengedalian  dari pelaksanaan kegiatan dalam hal ini proses pembelajaran PKn metode sosiodrama, dengan adanya kegiatan pengontolan diharapakan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan, misalnya dalam kegiatan sosiodrama guru tetap memperhatikan dan mengawasi prilaku siswa dalam mengungkapkan suatu ide atau pendapatnya sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman diantara teman-temannya
Evaluasi, merupakan tahapan akhir dari sebuah kegiatan.  Dalam pelaksanaan sosiodrama evaluasi dilakukan deangan cara merepleksi materi yang telah dibahas dalam pertunjukan sosiodrama yang dilaksanakan siswa baik mengenai kelebihan maupun kelemahan dari sosiodrama itu sendiri yang berhubungan dengan sikap dan prilaku siswa selama proses pembelajaran. Sebagai tindak lanjut guru dapat mengkombinasikan metode lain yang dapat mendukung proses pembelajaran misalnya metode permainan kuis dengan soal materi-materi PKn yang akan dibahas.
Kegiatan pengembangan suatu metode akan berjalan dengan baik, apabila guru dapat membuat perencanaan dengan matang, selain itu guru harus dapat menghubungkan   komponen-komponen pembelajaran dengan perencanaan yang akan disusun. Perencanaan tersebut meliputi : tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi.
2. Prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama.
     
      Berdasarkan hasil wawancara di atas diperoleh temuan penelitian bahwa, setiap kegiatan proses pembelajaran diakhiri dengan suatu harapan adanya perubahan yang melekat pada diri siswa.  Perubahan tersebut dalam bentuk prilaku siswa yang membawa ke arah positif atau kebaikan.  Seperti halnya dalam Pendidikan Kewarganegaraan disekolah, merupakan subjek pembelajaran yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Bangsa . Suatu negara demokratis pada akhirnya harus bersandar pada pengetahuan, keterampilan dan kebajikan  dari warga negaranya dan orang-orang yang mereka pilih untuk menduduki jabatan publik.
            Berdasarkan pemikiran di atas maka tujuan PKn pada  dasarnya adalah terwujudnya partisipasi  penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik warga negara yang taat kepada nilai-nilai  dan prinsip-prinsip dasar demokrasi kontitusional Indonesa.   Pendidikan Kewarganegaraan secara teoritik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat demensi-demensi kognitif, afektif dan psikomotorik yang  saling berhubungan satu dengan yang lain dan terintregasi dalam konteks substansi ide, nilai, konsep dan moral pancasila, kewarganegaraan yang demokratis, dan bela negara. 
PKn secara programatik dirancang sebagai subjek pembelajaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai ( content embedding volues ) dan pengalaman belajar ( learning experiences ) dalam bentuk berbagai prilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntunan hidup bagi warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.  Oleh karena itu, Pendidikan Kewarganegaraan disekolah dengan melalui penerapan metode sosiodrama harus dapat melahirkan siswa sebagai warga negara yang kritis, kreatif, inovatif dan bertanggung jawab yang merpakan cermin dari adanya kehidupan yang demokrasi.
Hal tersebut tentunya guru harus tetap memberikan  stimulus dan dorongan  terhadap siswa untuk selalu berprilaku demokrasi, dengan pembiasaan siswa tersebut prilaku demokrasi akan selau  tertanam dalam dirinya.
3.   Motivasi belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama yang diterapkan oleh guru.
     
            Metode merupakan salah satu alat untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar, dengan demikian dalam proses pembelajaran siswa mampu memahami materi/bahan ajar yang telah disampaikan guru.  Banyak macam metode yang sering dijadikan cara untuk menumbuhkan motivasi belajar anak salah satunya adalah metode sosiodrama. Dengan menggunakan metode sosiodrama, siswa dapat memerankan tokoh lakon yang sesuai dengan keinginannya, selain itu sambil belajar siswa juga menggali kemapuan/potensi yang ada pada dirinya seperti kemampuan berekting atau  bersandiwara.  Hal lain, dengan adanya penggunaan metode yang bervariatif dalam pembelajaran sedikit demi sedikit akan menghilangkan kebosanan atau kejenuhan yang terdapat pada siswa ketika mengikuti pelajaran dan sebaliknya apabila dalam pembelajaran menggunakan metode yang menoton, tujuan pembelajaran akan sulit dicapai atau siswa enggan untuk belajar.  Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban guru harus memiliki keterampilan dalam menentukan metode pembelajaran.




















BAB  V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
            Beberapa temuan dan kesimpulan terhadap penelitian tentang “ Profil Pengembangan Metode Sosiodrama dalam Menumbuhkan Prilaku Demokrasi Siswa ( Kajian Deskriftif Kualitatif di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta ) “, sebagai berikut :
Pertama, Profil pengembangan  metode sosiodrama terhadap pemahaman siswa   pelajaran PKn siswa kelas 5 di SD Negeri 5 Munjul Jaya Purwakarta dilakukan dengan dibuat suatu langkah-langkah dalam bentuk perencanaan pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) yang mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan dan masih berlaku. Selain itu, alat dan bahan ajar, metode dan penilian dalam pembelajaran PKn dengan metode sosiodrama disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran. 
Kedua, Prilaku demokrasi siswa dalam menentukan keputusan bersama melalui penerapan metode sosiodrama siswa  menjadi lebih kritis, berani  mengeluarkan ide-ide/pendapat terhadap masalah – masalah sosial yang sedang terjadi dengan berbagai alasan dan argumentasi. Hal tersebut tentu didukung dengan  guru yang selalu tetap memberikan  dorongan dan stimulus terhadap siswa untuk selalu berprilaku demokrasi
Ketiga, motivasi belajar siswa akan tumbuh disebabkan oleh adanya metode yang bervariatif dalam pembelajaran seperti pembelajaran PKn dengan menggunakan metode sosiodrama, siswa dapat memerankan tokoh lakon yang sesuai dengan keinginannya, selain itu sambil belajar siswa juga menggali kemapuan/potensi yang ada pada dirinya seperti kemampuan berekting atau  bersandiwara.
B.  Saran
            Dalam rangka “ Pengembangan metode sosiodrama dalam menumbuhkan prilaku demokrasi siswa kelas 5 di SD Negeri 5  Munjul Jaya Purwakarta” melalui pembelajaran PKn guru harus memiliki kecakapan dan keterampilan dalam menentukan suatu metode yang tepat sehingga proses pembelajaran menjadi efektif.
Selain itu, guru dituntut untuk berperan aktif dalam memberi dukungan dan  motivasi terhadap siswa yang masih memiliki rasa takut/ tidak berani untuk pendapat atau terhadap siswa yang kurang percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran disekolah.  Dengan demikian untuk mendukung segala aktivitas proses pembelajaran disekolah diperlukan guru yang kreatif, aktif dan inovatif.

















DAFTAR PUSTAKA

Asmayawati. ( 2008 ). Peranan Pendidikan Budi Pekerti dalam Upaya Pencegahan Dekadensi Moral Siswa (Kajian Deskriftif Tentang Budi Pekerti Melalui Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 2 Purwakarta). Subang: Skripsi Tidak Diterbitkan, Jurusan PPKn STKIP.

Al Muchtar, Suwarma. ( 2001 ). Civicus Jurnal Ilmu Politik, Hukum, dan PKn. Edisi 1. Jurusan PMPKn FPIPS UPI.

Arikunto, Suharsimi. ( 1998 ). Prosedur Penelitian. Edisi Revisi IV. Jakarta : Bina Aksara.
           
B. Suryo Subirto. ( 2002 ). Proses Belajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Diah Sriwilujeng. (2007). Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta: PT. Erlangga.

Depdiknas. ( 1999). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ke-3. Jakarta : Balai Pustaka.

                         . ( 2006 ). Pandan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan   ( KTSP ) SD/MI. Jakarta : BP. Dharma Bakti.

Yamin Martinis. ( 2003 ).  Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakakarta : Garing Pesada Press.

Kosasih, A. Djahari. ( 1995 ). Landasan Operasional Kurikulum Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Persekolahan 1994. Bandung : Laboratorium Pengajaran PMP IKIP.

Melong, lexy. ( 2006).  Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

NN. ( 2003 ). Undang-Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen. ( 2002 ). Solo : Dwi Tunggal.

Nawawi, H. ( 1983 ). Metode Penelitian Bidang Sosial. Pontianak : Gadjah Mada University Press.



Sudjana, N. ( 1987 ). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Agensindo.

Pupu Fathurrohman, Sobry. ( 2007 ). Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islam. Bandung : Refika Aditama.

Rahmat. ( 2007 ). Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Bandung: Tim UPI

Roestiyah N.K. ( 2008 ).  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

                         . ( 1986 ). Masalah Pengajaran Sebaga Suatu Sistem. Edisi ke -3 .Jakarta :  Bina Aksara.      

Ruslan Rosady. ( 2006 ). Metode Penelitian Publik Relation dan Komunikasi. Jakarta : Rajawali Pers.

Saifuddin Anwar. ( 1995 ). Sikap Manusia, Terori dan Pengukurannya. Edisi ke 2. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Syaiful Bahri D, Zain. (1995). Konsep Trategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Surya, Moh. ( 2003 ) Psikologi Pendidikan. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Pendidikan: UPI Bandung.

Sudirman N.K. ( 1991 ). Ilmu Pendidikan. Edisi-5. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Sumarsono, dkk. ( 2005 ) Pendidikan Kewarganegaraan . Bandung : Rineka Cipta.

Sanjaya, W. ( 2006 ). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidkan. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.

Sapriya, S. Winataputra. ( 2006 ). PKn Model Pengembangan Materi dan Pembelajaran. Bandung : UPI Bandung.

Udin S. Winataputra, Budimansyah. ( 2007 ). Civic Education ( Konteks, Landasan, Bahan Ajar dan Kultur Kelas ). UPI Bandung: Program Studi PPKn.


Udin S. Winataputra, Ardiwinata. (1991). Materi Pokok Perencanaan Pengajaran Modul 1- 6. Jakarta : Dirjen Binbaga Islam dan Universitas Terbuka.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Jtahun 2003. ( 2003 ). Tentang Sitem Pendidikan Nasional. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
                       


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar